Dailykaltim.co – Di tengah perubahan gaya hidup yang semakin statis, sebuah temuan ilmiah kembali mengingatkan tentang ancaman yang tumbuh perlahan namun pasti: obesitas sentral. Pada kelompok usia 40 tahun ke atas, kondisi ini tidak hanya menjadi soal estetika tubuh, melainkan pintu masuk bagi berbagai penyakit kronis yang mengintai dalam diam.

Sebuah penelitian berjudul “Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kejadian Obesitas Sentral pada Usia ≥40 Tahun di Indonesia (Analisis Data Indonesian Family Life Survey 5)” dalam Jurnal Vokasi Keperawatan (Vol. 6 No. 2, 2023)  yang dilakukan oleh Syafira Anindya Dhika Maulani dan Ratna Djuwita dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia mengungkap hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan kejadian obesitas sentral pada masyarakat Indonesia usia ≥40 tahun. Penelitian ini menggunakan data Indonesian Family Life Survey (IFLS-5) tahun 2014/2015, dengan jumlah sampel mencapai 9.124 responden .

Hasilnya menunjukkan gambaran yang cukup mencemaskan. Sebanyak 44,8 persen responden mengalami obesitas sentral—sebuah kondisi penumpukan lemak di area perut yang diukur melalui lingkar pinggang. Sementara itu, sekitar 40,1 persen responden tergolong memiliki aktivitas fisik yang kurang .

Dalam lanskap kesehatan masyarakat, angka ini bukan sekadar statistik. Ia mencerminkan perubahan gaya hidup yang semakin menjauh dari aktivitas fisik, terutama pada kelompok usia paruh baya. Pada fase ini, tubuh secara alami mengalami penurunan massa otot serta perubahan hormonal, yang mempercepat akumulasi lemak di area perut.

Penelitian tersebut menemukan bahwa individu dengan aktivitas fisik yang rendah memiliki risiko 1,049 kali lebih besar mengalami obesitas sentral dibandingkan mereka yang cukup aktif, setelah dikontrol oleh faktor jenis kelamin . Meski angka ini menunjukkan hubungan yang tergolong lemah, arah relasinya tetap konsisten: semakin rendah aktivitas fisik, semakin tinggi risiko penumpukan lemak abdominal.

Lebih jauh, riset ini juga menyoroti faktor-faktor lain yang turut berkontribusi. Jenis kelamin menjadi variabel yang paling dominan, di mana perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami obesitas sentral dibandingkan laki-laki. Selain itu, faktor tempat tinggal, tingkat pendidikan, status pekerjaan, konsumsi serat, serta pola makan juga menunjukkan hubungan signifikan terhadap kondisi ini .

Namun, di balik angka-angka tersebut, terdapat dinamika metodologis yang menarik. Peneliti mencatat bahwa pengukuran aktivitas fisik dalam data IFLS tidak menggunakan standar Metabolic Equivalent of Task (METs), karena keterbatasan data durasi dan frekuensi aktivitas. Hal ini memungkinkan terjadinya underestimation terhadap risiko sebenarnya. Dengan kata lain, dampak aktivitas fisik terhadap obesitas sentral bisa jadi lebih besar daripada yang terukur dalam penelitian ini.

Meski demikian, arah temuan tetap sejalan dengan berbagai studi sebelumnya. Penelitian berbasis Riskesdas maupun studi internasional menunjukkan bahwa aktivitas fisik memiliki peran protektif terhadap obesitas, termasuk obesitas perut. Bahkan, dalam studi intervensi, aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat terbukti mampu menurunkan lingkar pinggang secara signifikan.

Dalam konteks ini, tubuh manusia bekerja seperti sistem energi. Ketika asupan energi tidak diimbangi dengan pengeluaran melalui aktivitas fisik, kelebihan energi akan disimpan dalam bentuk lemak. Area perut menjadi salah satu lokasi utama penyimpanan tersebut, yang kemudian berkembang menjadi obesitas sentral.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan aktivitas fisik minimal 150–300 menit per minggu dengan intensitas sedang, atau 75–150 menit dengan intensitas tinggi. Di Indonesia, prinsip aktivitas fisik yang dikenal sebagai BBTT—Baik, Benar, Terukur, dan Teratur—menjadi pendekatan yang disarankan untuk menjaga keseimbangan tubuh .

Namun, tantangan terbesar bukan terletak pada kurangnya pengetahuan, melainkan pada konsistensi praktik dalam kehidupan sehari-hari. Modernisasi telah mengubah banyak aktivitas fisik menjadi serba otomatis dan minim gerak. Dari pekerjaan hingga transportasi, tubuh semakin jarang diajak bekerja.

Penelitian ini juga menekankan pentingnya intervensi berbasis komunitas, seperti Posbindu Penyakit Tidak Menular (PTM), yang dapat menjadi ruang deteksi dini sekaligus promosi gaya hidup sehat. Aktivitas sederhana seperti senam bersama atau jalan santai mingguan dapat menjadi langkah kecil yang berdampak besar jika dilakukan secara rutin.

Pada akhirnya, obesitas sentral bukan sekadar persoalan individu, melainkan refleksi dari pola hidup kolektif. Ia tumbuh dari kebiasaan yang berulang—dari kursi yang terlalu lama diduduki, hingga langkah yang semakin jarang diambil.

Di usia ketika pengalaman hidup mencapai puncaknya, justru tubuh menghadapi ujian paling sunyi. Dan dari sana, pilihan sederhana—untuk bergerak atau tidak—menjadi penentu arah kesehatan di masa depan.

[UHD]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.

Exit mobile version