Dailykaltim.co – Minuman dengan gula aren kian menjamur di berbagai gerai, mulai dari kopi susu hingga minuman kekinian lainnya. Rasa khas serta citra “lebih alami” membuat banyak orang menganggap gula aren sebagai pilihan yang lebih sehat dibanding gula putih.
Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Gula aren tetap tergolong gula dengan kandungan utama sukrosa yang dapat meningkatkan kadar gula darah dan menyumbang kalori harian.
Gula aren berasal dari nira pohon aren yang direbus hingga mengental dan mengkristal. Proses pembuatannya yang lebih tradisional membuat gula ini masih mengandung sejumlah mineral seperti kalium, magnesium, dan zat besi. Meski demikian, kandungan nutrisi tersebut relatif kecil sehingga tidak signifikan memberikan manfaat kesehatan.
Dalam praktiknya, konsumsi gula aren tetap perlu dibatasi. Meski memiliki indeks glikemik yang sedikit lebih rendah dibanding gula putih, perbedaan tersebut tidak berdampak besar jika dikonsumsi dalam jumlah berlebih.
Minuman manis berbasis gula aren umumnya tinggi kalori dan rendah memberikan rasa kenyang. Kondisi ini berpotensi mendorong konsumsi kalori berlebih tanpa disadari. Jika berlangsung terus-menerus, risiko kenaikan berat badan, obesitas, penyakit jantung, hingga diabetes tipe 2 dapat meningkat.
Selain itu, tidak semua produk yang berlabel gula aren menggunakan bahan murni. Sejumlah minuman di pasaran kerap mengombinasikan gula aren dengan gula tambahan, sirup, krimer, serta susu tinggi lemak. Kombinasi ini dapat meningkatkan kandungan kalori secara signifikan.
Konsumsi gula aren tetap diperbolehkan selama dalam batas wajar. Untuk individu sehat, minuman berbasis gula aren masih dapat dikonsumsi sesekali. Namun, frekuensi dan porsinya perlu diperhatikan agar tidak melebihi batas asupan gula harian.
Secara umum, asupan gula tambahan dianjurkan tidak lebih dari 10 persen dari total kebutuhan kalori harian, bahkan idealnya di bawah 5 persen. Sementara itu, satu porsi minuman kekinian sering kali sudah mendekati atau melampaui batas tersebut.
Kelompok dengan kondisi tertentu seperti diabetes, sindrom metabolik, atau kelebihan berat badan disarankan lebih berhati-hati. Pengendalian konsumsi gula menjadi penting karena dapat memengaruhi kadar gula darah, bahkan dalam jumlah kecil.
Untuk mengurangi risiko, masyarakat dapat memilih porsi lebih kecil, meminta pengurangan gula, serta membatasi frekuensi konsumsi. Menghindari tambahan krimer atau sirup berlebih juga menjadi langkah yang dianjurkan.
Alternatif lain adalah membuat minuman sendiri di rumah agar jumlah gula dapat dikontrol sesuai kebutuhan. Selain itu, masyarakat diimbau membiasakan diri membaca label gizi pada produk kemasan untuk mengetahui kandungan gula dan kalori per porsi.
Dengan demikian, minuman gula aren tidak secara otomatis berbahaya, tetapi juga bukan pilihan sehat jika dikonsumsi tanpa kendali. Pengaturan jumlah dan frekuensi konsumsi menjadi kunci agar tetap dapat menikmati minuman tersebut tanpa mengabaikan aspek kesehatan.
[UHD]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.

