Dailykaltim.co, Penajam – Komitmen terhadap kesetaraan gender di Penajam Paser Utara (PPU) kembali mendapat pengakuan. Dalam ajang Parade Gender Kalimantan Timur Tahun 2026 yang digelar dalam rangka peringatan Hari Kartini ke-147, tiga tokoh dari PPU berhasil meraih penghargaan Gender Champion.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) PPU, dr. Jansje Grace Makisurat, MH, mengungkapkan bahwa capaian tersebut bukan proses instan, melainkan hasil seleksi yang telah dilakukan sejak tahun sebelumnya.

“Sebenarnya yang meraih penghargaan ini itu penilaiannya ada di tahun lalu. Jadi yang dikirim ada empat atau lima, dan yang lolos ada tiga. Termasuk ada kader posyandu yang ikut, namun dia tidak lolos,” ujarnya saat ditemui pada Kamis, 30 April 2026.

Ia menambahkan, dari sepuluh kabupaten/kota di Kalimantan Timur, PPU menjadi daerah yang paling menonjol dalam perolehan penghargaan tersebut.

“Yang menjadi menarik, dari sepuluh kabupaten dan kota di Kaltim, PPU memboyong tiga orang yang mendapat penghargaan,” katanya.

Tiga penerima penghargaan tersebut yakni Yuni Nurhayati, Wartono Mustafa, dan Yani. Ketiganya dinilai memiliki kontribusi nyata dalam mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di bidang masing-masing.

Menurut Jansje, dukungan dari pihaknya juga diberikan sejak tahap awal, khususnya dalam penguatan materi yang ditampilkan para peserta.

“Kita memang mendukung penuh para peraih penghargaan ini dengan perbaikan isi konten videonya,” jelasnya.

“Artinya, misalnya memperkuat data dan substansi seperti keterlibatan gender dan perempuan,” sambungnya.

Ia mencontohkan, salah satu penerima penghargaan, Wartono Mustafa, dinilai mampu mengangkat isu pelestarian lingkungan melalui pendekatan pariwisata.

“Misalnya Pak Wartono Mustafa itu, kalau saya lihat videonya, dia menampilkan wisatawan mancanegara yang datang ke wisata susur sungai. Dia kuat unsur pariwisatanya, di lain sisi dia kan pelestarian alam sebenarnya,” ungkapnya.

Sementara itu, Yuni Nurhayati dinilai berhasil membangun model pemberdayaan perempuan berbasis kelompok melalui usaha Batik Sekar Buen.

“Seperti Bu Yuni Nurhayati dari Batik Sekar Buen, dia kan menggandeng kelompok-kelompok perempuan,” tuturnya.

“Jadi para perempuan yang dia fasilitasi, sehingga unsur pemberdayaannya kuat sekali,” lanjutnya.

Adapun Yani, disebut memberikan kontribusi di sektor pendidikan, khususnya dalam pengajaran anak-anak di sekolah swasta.

“Nah, kalau ibu Yani ini, dia memberikan sumbangsih di bidang pendidikan. Dia mengajar anak-anak. Apalagi kayaknya sekolah tempat dia mengajar itu kan sekolah swasta,” jelasnya.

Jansje menilai, masih banyak potensi tokoh masyarakat di PPU, terutama perempuan, yang belum terangkat ke permukaan meskipun memiliki inovasi dan kontribusi signifikan.

“Sebenarnya banyak tokoh-tokoh masyarakat kita, utamanya perempuan, yang lihai berinovasi,” katanya.

Karena itu, ke depan pihaknya berencana melakukan pendataan lebih menyeluruh terhadap kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki potensi untuk dikembangkan.

“Rencananya ke depan kami ingin melakukan inventarisir kelompok-kelompok masyarakat mana saja yang bisa kita berikan stimulus untuk kemudian dia bisa berkembang,” pungkasnya.

Melalui Parade Gender Kaltim 2026 yang juga diisi dengan talk show bertema upaya mendorong kesetaraan gender diharapkan tidak hanya berhenti pada penghargaan, tetapi berlanjut pada penguatan peran perempuan dalam pembangunan daerah secara berkelanjutan.

[RRI | ADV DP3AP2KB PPU]

*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.

Exit mobile version