Dailykaltim.co, Penajam – Upaya mendorong kesetaraan gender di Penajam Paser Utara (PPU) tidak berhenti pada seremoni penghargaan semata. Di balik capaian tiga Gender Champion dalam Parade Gender Kalimantan Timur 2026, pemerintah daerah mulai menyiapkan langkah lanjutan yang lebih sistematis: memetakan potensi kelompok masyarakat, khususnya perempuan, yang dinilai memiliki kapasitas inovatif.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) PPU, dr. Jansje Grace Makisurat, MH, menilai selama ini masih banyak potensi yang belum tergarap secara maksimal.

“Sebenarnya banyak tokoh-tokoh masyarakat kita, utamanya perempuan, yang lihai berinovasi,” ujarnya.

Pernyataan itu sekaligus membuka pertanyaan lanjutan: jika potensi itu banyak, sejauh mana sudah terpetakan? Dan apakah intervensi pemerintah selama ini sudah tepat sasaran?

Jansje mengakui, ke depan pihaknya akan lebih fokus pada proses identifikasi dan pendataan sebagai dasar intervensi program. Langkah ini dinilai penting agar pemberdayaan tidak bersifat sporadis atau hanya menyasar individu tertentu saja.

“Rencananya ke depan kami ingin melakukan inventarisir kelompok-kelompok masyarakat mana saja yang bisa kita berikan stimulus untuk kemudian dia bisa berkembang,” jelasnya.

Inventarisasi ini, kata dia, bukan sekadar pendataan administratif. Lebih dari itu, menjadi pintu masuk untuk menentukan bentuk dukungan yang relevan—mulai dari penguatan kapasitas, akses permodalan, hingga fasilitasi jejaring usaha.

Namun, rencana ini juga menyisakan tantangan. Seberapa luas jangkauan pendataan yang akan dilakukan? Apakah menyasar hingga tingkat desa dan komunitas kecil? Dan bagaimana memastikan kelompok yang benar-benar aktif tidak terlewat?

Dalam konteks pengarusutamaan gender (PUG), langkah ini menjadi krusial. Sebab, pemberdayaan perempuan tidak cukup hanya diukur dari jumlah program, tetapi juga dari ketepatan sasaran dan dampak jangka panjangnya.

Dengan pendekatan inventarisasi tersebut, DP3AP2KB PPU tampaknya ingin menggeser pola kerja dari sekadar responsif menjadi lebih berbasis data. Pertanyaannya, apakah langkah ini mampu menjawab kebutuhan riil di lapangan, atau justru kembali terjebak pada pendataan tanpa tindak lanjut?

Yang jelas, di tengah banyaknya perempuan inovatif di PPU, peluang untuk mendorong perubahan sosial dan ekonomi sebenarnya terbuka lebar—tinggal bagaimana strategi itu benar-benar dijalankan secara konsisten.

[RRI | ADV DP3AP2KB PPU]

*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.

Exit mobile version