Dailykaltim.co – Serangan hama kutudaun masih menjadi salah satu tantangan utama dalam budidaya cabai di Indonesia. Selain menurunkan produktivitas tanaman, hama tersebut juga berperan sebagai penyebar berbagai penyakit virus yang dapat menyebabkan gagal panen.

Di tengah tantangan tersebut, penelitian yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan dua genotipe cabai yang menunjukkan ketahanan terhadap serangan kutudaun (Aphis gossypii). Temuan ini dinilai membuka peluang pengembangan varietas cabai yang lebih tahan hama dan tidak bergantung pada penggunaan pestisida secara berlebihan.

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Hortikultura, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Ady Daryanto, mengatakan pengembangan varietas tahan hama menjadi salah satu pendekatan yang lebih berkelanjutan dalam menjaga produksi cabai.

“Perubahan iklim dan meningkatnya serangan organisme pengganggu tanaman membuat budidaya cabai semakin menantang. Pengembangan varietas tahan hama merupakan pendekatan yang lebih ramah lingkungan sekaligus mendukung keberlanjutan produksi cabai,” jelas Ady dalam webinar HortiActive #27 bertajuk Pemuliaan Cabai Tahan Kutudaun: Pendekatan Bioassay dan Analisis Genetik, Senin (22/6/2026).

Menurut Ady, kutudaun tidak hanya mengisap cairan tanaman yang menghambat pertumbuhan, tetapi juga menghasilkan embun jelaga (honeydew) yang memicu pertumbuhan jamur serta menjadi vektor lebih dari 50 jenis virus pada tanaman famili Solanaceae. Beberapa di antaranya adalah Cucumber Mosaic Virus (CMV), Pepper Yellow Mosaic Virus(PepYMV), dan polerovirus.

Dalam penelitiannya, tim peneliti mengevaluasi tujuh genotipe cabai untuk mengidentifikasi sumber ketahanan terhadap hama tersebut. Hasilnya, genotipe C20 dan C367 secara konsisten mampu menekan perkembangan populasi kutudaun sehingga berpotensi dimanfaatkan dalam program pemuliaan tanaman cabai.

Penelitian dilakukan menggunakan tiga metode skrining berbasis no-choice test, yakni seedling cage, detached leaf, dan clip cage. Metode tersebut digunakan untuk mengamati perkembangan populasi kutudaun selama tujuh hari setelah infestasi.

“Hasil pengujian menunjukkan seluruh metode memiliki nilai heritabilitas yang sangat tinggi, sekitar 90%-91%. Artinya, karakter ketahanan lebih banyak dikendalikan oleh faktor genetik dibandingkan pengaruh lingkungan,” ujar Ady.

Dari ketiga metode yang diuji, clip cage dinilai paling praktis karena memungkinkan pengamatan dilakukan pada daun yang masih menempel pada tanaman sehingga kondisi alami tanaman tetap terjaga.

Penelitian itu juga menunjukkan bahwa ketahanan terhadap kutudaun merupakan karakter kuantitatif yang dikendalikan oleh banyak gen dengan interaksi yang kompleks. Namun, adanya efek gen aditif yang cukup kuat memberikan peluang bagi pemulia tanaman untuk meningkatkan sifat ketahanan melalui proses seleksi pada generasi lanjut.

Temuan tersebut dinilai penting bagi pengembangan varietas cabai yang lebih adaptif terhadap serangan hama. Selain berpotensi menekan penggunaan pestisida, varietas tahan hama juga dapat membantu menjaga produktivitas tanaman serta mendukung stabilitas pasokan cabai di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya gangguan organisme pengganggu tanaman.

[UHD]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.

Exit mobile version