Dailykaltim.co, Samarinda – Laba bersih Rp3,62 miliar belum membuat Pemerintah Kota Samarinda puas terhadap kinerja Perumda Varia Niaga. Wali Kota Samarinda Andi Harun justru meminta perusahaan daerah tersebut membenahi unit usaha yang belum efisien sekaligus mencari sumber pendapatan baru.
Arahan itu disampaikan Andi Harun saat memimpin Rapat Evaluasi Kinerja Perumda Varia Niaga Samarinda Semester I 2026 di Balai Kota Samarinda, Selasa, 4 Agustus 2026. Ia didampingi Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri dan Sekretaris Daerah Neneng Chamelia Shanti.
Dalam rapat tersebut, Andi Harun membedah kinerja sejumlah lini usaha yang dikelola Varia Niaga. Ia mengapresiasi laba bersih perusahaan yang secara akumulatif mencapai Rp3,62 miliar hingga semester pertama tahun ini. Namun, capaian itu dinilai belum cukup menjadi ukuran keberhasilan perusahaan.
Salah satu unit yang menjadi perhatian ialah bisnis pangan. Andi meminta evaluasi dilakukan terhadap seluruh mata rantai usaha, mulai dari harga pokok penjualan, margin keuntungan, biaya distribusi, hingga alokasi biaya operasional.
Menurut dia, persoalan pada unit pangan bukan sekadar angka kerugian yang tercatat dalam laporan keuangan. Kondisi tersebut memperlihatkan adanya persoalan efisiensi dan pengelolaan internal yang harus segera diperbaiki.
“Evaluasi total harus dilakukan. Masalah pada unit pangan ini murni isu efisiensi dan manajemen internal,” ujarnya.
Bebaya Mart juga masuk dalam pembahasan evaluasi. Selain menilai kinerja masing-masing unit, Andi menyoroti struktur laba Varia Niaga yang masih terkonsentrasi pada bisnis assist kapal.
Unit tersebut membukukan laba Rp2,37 miliar dan disebut menyumbang sekitar 76 persen terhadap struktur laba perusahaan. Kontribusi itu dinilai positif, tetapi sekaligus menyimpan risiko karena masih bergantung pada satu kontrak utama dengan Pelindo.
Andi kemudian menginstruksikan jajaran direksi memperluas pasar layanan assist kapal. Varia Niaga setidaknya diminta mengamankan satu kontrak baru di kawasan perairan strategis lain untuk mengurangi ketergantungan pada kontrak yang telah berjalan.
Dalam evaluasi itu, manajemen turut memaparkan sejumlah capaian perusahaan. Varia Niaga tercatat sebagai satu-satunya BUMD milik Pemerintah Kota Samarinda yang telah menerapkan sistem Enterprise Resource Planning berbasis Odoo.
Perusahaan juga melakukan efisiensi jumlah pegawai menjadi 86 orang dengan produktivitas yang diklaim terus meningkat. Dari 21 unit bisnis yang diamanatkan melalui peraturan daerah, baru delapan unit yang aktif memberikan kontribusi.
Salah satunya ialah Teras Samarinda. Jumlah kunjungan ke ruang publik tersebut melonjak 144 persen menjadi sekitar 468 ribu orang. Tingkat hunian Rumah Susun Sederhana Sewa atau Rusunawa mencapai 97 persen dengan persentase pembayaran yang sama, sedangkan okupansi Kos Syariah berada di angka 92 persen.
Varia Niaga juga terus mengembangkan Bebaya Mart dan kemitraan antarbisnis atau business to business. Pengembangan dilakukan dengan menambah produk hingga 3.600 stock keeping unit, menata ulang merek cabang Antasari, serta memperluas jaringan distribusi pangan.
Komoditas yang dikembangkan mencakup telur, ayam beku untuk kebutuhan perhotelan, serta beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bulog. Perusahaan juga merintis peternakan ayam bebas kandang untuk memproduksi telur omega dan mengembangkan pakan mandiri di Berambai.
Meski demikian, sejumlah catatan kritis disampaikan jajaran Pemerintah Kota Samarinda. Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Marnabas menilai penerimaan parkir di Teras Samarinda belum optimal.
Dengan jumlah pengunjung sekitar 468 ribu orang dan asumsi tarif parkir Rp2.000, potensi pendapatannya diperkirakan mencapai Rp936 juta. Adapun realisasi yang tercatat baru sekitar Rp865 juta atau terdapat selisih sekitar Rp71 juta dari perkiraan tersebut.
Saefuddin Zuhri turut meminta perbaikan fisik Teras Samarinda segera dilakukan. Kerusakan atap dan kualitas rumput dinilai perlu ditangani untuk menjaga kenyamanan pengunjung. Ia juga mendorong Varia Niaga berperan dalam pengendalian inflasi daerah, terutama untuk komoditas ayam ras.
Kepala Bagian Kerja Sama Idfi Septiani menyoroti selisih antara laba usaha dan laba total yang masih dipengaruhi pendapatan lain-lain. Ia meminta sumber penerimaan di luar kegiatan bisnis utama itu diperinci serta dimasukkan ke dalam proyeksi keuangan yang lebih terukur.
Ketergantungan terhadap pendapatan lain-lain dinilai perlu dikendalikan. Tanpa struktur pendapatan utama yang kuat, kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi stabilitas dan kesehatan perusahaan dalam jangka panjang.
Menutup evaluasi, Andi menegaskan bahwa keberhasilan BUMD tidak cukup diukur dari besarnya laba. Perusahaan daerah juga harus dikelola secara sehat, efisien, transparan, dan adaptif, serta mampu membangun sumber pendapatan baru.
Evaluasi kinerja, menurut dia, tidak sebatas mencari kekurangan perusahaan. Proses itu harus memastikan setiap dana yang dikelola BUMD menghasilkan manfaat ekonomi bagi daerah dan masyarakat Samarinda.
[PRD]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.

