Dailykaltim.co – Pusat Riset Sains Data dan Informasi (PRSDI) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan Chatbot Lisa, asisten virtual berbasis kecerdasan artifisial (AI) yang dirancang untuk mendukung edukasi pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani terapi hemodialisis atau cuci darah.

Perkembangan riset tersebut dipaparkan perekayasa PRSDI BRIN, Elvira Nurfadhilah, dalam Pertemuan Pekanan Internal PRSDI yang berlangsung pada Rabu (3/6/2026).

Elvira mengatakan pengembangan Chatbot Lisa berangkat dari tingginya jumlah pasien hemodialisis di Indonesia yang telah mencapai lebih dari 134 ribu orang pada 2024. Di sisi lain, kebutuhan akan informasi kesehatan yang akurat dan mudah diakses terus meningkat, sementara waktu tenaga kesehatan untuk memberikan edukasi secara individual masih terbatas. Kondisi itu diperparah dengan maraknya penyebaran informasi kesehatan yang tidak tepat di ruang digital.

“Chatbot Lisa dikembangkan sebagai solusi edukasi berbasis AI yang mampu memberikan informasi yang akurat, mudah diakses, dan berbasis bukti klinis bagi pasien hemodialisis. Chatbot Lisa pertama kali dikembangkan pada tahun 2021 dalam bentuk sistem berbasis aturan (rule-based system),” ujar Elvira.

Seiring perkembangan teknologi kecerdasan buatan, sistem tersebut kemudian dikembangkan menjadi Chatbot Lisa versi 2.0 dengan memanfaatkan teknologi Large Language Models (LLM) dan Retrieval-Augmented Generation (RAG). Teknologi ini memungkinkan sistem mengambil referensi dari sumber pengetahuan yang telah diverifikasi sebelum menghasilkan jawaban kepada pengguna.

“Penggunaan teknologi RAG menjadi salah satu keunggulan utama Chatbot Lisa karena setiap jawaban yang diberikan dapat ditelusuri kembali ke sumber referensi aslinya. Dengan demikian, risiko munculnya informasi yang tidak akurat atau hallucination dari model AI dapat diminimalkan,” jelasnya.

Pengembangan Chatbot Lisa saat ini melibatkan kolaborasi antara PRSDI BRIN, RSUD Bakti Pajajaran Kabupaten Bogor, dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Sejumlah tenaga medis dan pakar kesehatan turut terlibat dalam proses pengembangan, mulai dari ahli nefrologi, dokter spesialis penyakit dalam, hingga peneliti kesehatan BRIN.

Menurut Elvira, sepanjang 2026 tim peneliti telah mencatat sejumlah capaian, antara lain menjalin kerja sama dengan rumah sakit mitra, menggelar forum diskusi kelompok terarah (FGD), memperoleh klirens etik penelitian, serta mengembangkan perangkat lunak RAGLab v1.0 yang telah diajukan hak ciptanya.

“Sepanjang 2026 tim peneliti telah mencapai sejumlah kemajuan penting, antara lain, terjalinnya kerja sama dengan RSUD Bakti Pajajaran dan RSCM, pelaksanaan FGD, perolehan klirens etik penelitian, dan pengembangan perangkat lunak RAGLab v1.0 yang telah diajukan hak ciptanya. Tim juga sedang menyelesaikan sebuah book chapter yang membahas evaluasi keamanan dan keandalan chatbot medis berbasis LLM,” bebernya.

Penelitian tahun ini difokuskan pada tiga sasaran utama, yakni mengembangkan chatbot berbasis LLM dan RAG dengan jawaban yang terverifikasi, membangun mekanisme validasi hibrida yang melibatkan pakar klinis, serta melakukan evaluasi sistem sesuai standar kesehatan yang berlaku.

Untuk mencapai tujuan tersebut, tim peneliti mengumpulkan dan mengolah data dari berbagai sumber terpercaya, termasuk pedoman Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI), Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK), KDIGO, KDOQI, regulasi Kementerian Kesehatan, dan berbagai publikasi ilmiah terkait hemodialisis.

Tahap berikutnya mencakup pengembangan sistem chatbot melalui proses semantic chunking, pembuatan embedding, pengelolaan basis data vektor, hingga integrasi berbagai model LLM. Setelah itu, sistem akan menjalani proses validasi dan evaluasi bersama tenaga medis melalui pendekatan human-in-the-loop guna memastikan kualitas jawaban yang diberikan.

“Selain pengembangan teknologi, kami juga menaruh perhatian pada kualitas dataset yang digunakan. Sumber data harus berasal dari referensi medis yang terstandar dan divalidasi oleh para ahli. Chatbot Lisa tidak dirancang untuk menggantikan peran dokter maupun perawat, melainkan sebagai alat bantu edukasi dan pendamping pasien dalam memperoleh informasi kesehatan yang benar,” ungkapnya.

Ke depan, BRIN menargetkan penyelesaian purwarupa terbaru Chatbot Lisa yang akan diuji secara terbatas di rumah sakit mitra. Selain menghasilkan hak kekayaan intelektual dan publikasi ilmiah, riset tersebut diharapkan dapat mendukung pemanfaatan kecerdasan artifisial dalam layanan edukasi kesehatan.

“Kami berharap Chatbot Lisa dapat menjadi sarana edukasi yang membantu pasien hemodialisis memperoleh informasi kesehatan yang terpercaya, mudah dipahami, dan dapat diakses kapan saja,” ujar Elvira.

[UHD]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.

Exit mobile version