Dailykaltim.co, Kubar – Rangkaian Festival Luuq Melapeh 2026 di Kampung Linggang Melapeh, Kecamatan Linggang Bigung, Kabupaten Kutai Barat, resmi berakhir setelah berlangsung selama delapan hari. Festival yang mengangkat pelestarian adat dan budaya Dayak Tunjung Rentenuukng itu ditutup pada Sabtu (25/7/2026) setelah menghadirkan berbagai kegiatan budaya, olahraga, dan hiburan masyarakat.

Festival tersebut dibuka pada 18 Juli 2026 bersamaan dengan penyelenggaraan Jelajah Alam Melapeh (JAM) Seri 6, salah satu agenda yang menjadi daya tarik utama dalam rangkaian kegiatan tahun ini.

Ketua Panitia Pelaksana Lucius Marten mengatakan seluruh rangkaian kegiatan sebenarnya telah dimulai sejak 12 Juli 2026 melalui prosesi ritual adat di kawasan wisata Jantur Tabalas. Ritual tersebut menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat sebagai bentuk penghormatan kepada alam dan leluhur.

“Festival ini bertujuan menjadi wadah pelestarian adat dan budaya Dayak Tunjung Rentenuukng, sekaligus ruang kebersamaan, promosi pariwisata daerah, dan penggerak ekonomi kreatif masyarakat Kampung Linggang Melapeh,” ujar Lucius, Sabtu (25/7/2026).

Selama pelaksanaan festival, panitia menggelar berbagai perlombaan seni budaya dan permainan tradisional yang melibatkan ratusan peserta dari berbagai kalangan. Sejumlah kegiatan yang menarik perhatian pengunjung antara lain lomba tari tradisional dan tari kreasi, fashion show busana adat dan kreasi Kriookng, serta beragam permainan tradisional seperti Beempeek, Belogo, Berijoq, Beberek, Intootn, Nutuuk, dan Toak.

Selain agenda budaya, Jelajah Alam Melapeh (JAM) Seri 6 menjadi salah satu kegiatan yang paling menyedot perhatian. Event motor trail tersebut mencatat jumlah peserta terbanyak sejak pertama kali digelar dengan melibatkan sekitar 400 rider dari 40 klub dan komunitas trail yang berasal dari berbagai daerah di Kalimantan Timur.

Para peserta menempuh jalur sepanjang sekitar 70 kilometer yang melintasi kawasan alam Kutai Barat. Selain menghadirkan tantangan bagi para rider, kegiatan tersebut juga memperkenalkan potensi wisata alam daerah kepada peserta dan pengunjung.

Panitia menyebut kegiatan trail tahun ini tidak hanya berfokus pada olahraga dan petualangan, tetapi juga membawa misi sosial melalui penyaluran bantuan sembako kepada masyarakat yang membutuhkan.

Kehadiran ratusan peserta dari luar daerah turut memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat setempat. Sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memanfaatkan momentum festival untuk memasarkan produk lokal kepada pengunjung.

Perwakilan Master Trek Indonesia yang mewakili peserta trail menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan tersebut dan berharap Jelajah Alam Melapeh dapat terus berkembang menjadi ajang yang lebih besar pada masa mendatang.

Acara penutupan festival berlangsung meriah dengan berbagai pertunjukan seni dan hiburan. Komunitas Kratukng Balok Asa tampil mengisi panggung utama, dilanjutkan dengan pembagian hadiah, pengundian doorprize, serta tradisi makan bersama yang melibatkan masyarakat.

Puncak acara semakin semarak dengan pemutaran video profil Kampung Linggang Melapeh, pertunjukan seni bertajuk Hujan Bintang-Bintang, serta penampilan sejumlah musisi lokal Kutai Barat yang menghibur masyarakat hingga akhir kegiatan.

Penyelenggaraan Festival Luuq Melapeh 2026 kembali menegaskan peran festival budaya sebagai ruang pelestarian tradisi sekaligus sarana promosi wisata dan penggerak ekonomi masyarakat di Kutai Barat. Selain memperkenalkan kekayaan budaya Dayak Tunjung Rentenuukng, kegiatan tersebut juga menjadi ajang yang mempertemukan masyarakat, komunitas, dan pelaku usaha dalam satu perayaan budaya daerah.

[UHD]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.

Exit mobile version