Dailykaltim.co – Kementerian Ketenagakerjaan menegaskan arah baru Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP/BLK) yang tidak lagi berhenti pada penerbitan sertifikat. Pemerintah menargetkan lulusan balai pelatihan benar-benar terserap ke dunia kerja atau mampu menciptakan usaha mandiri melalui skema perluasan kesempatan kerja, sehingga dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Penegasan tersebut disampaikan Menteri Ketenagakerjaan Yassierli dalam rapat koordinasi penguatan sinergi antara Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (Binalavotas) dan Direktorat Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja serta Perluasan Kesempatan Kerja (Binapenta dan PKK) di Jakarta, Kamis (8/1/2026). Rapat ini menjadi bagian dari upaya menyelaraskan kebijakan pelatihan dengan kebutuhan riil pasar kerja.
“Yang harus kita kejar bukan sekadar berapa orang dilatih, tapi berapa yang benar-benar bekerja setelah dilatih ataupun mereka yang dapat wirausaha,” kata Yassierli.
Menurut Yassierli, indikator keberhasilan balai pelatihan vokasi kini bergeser. Pemerintah tidak lagi menitikberatkan capaian pada jumlah kegiatan atau laporan administratif, melainkan pada hasil nyata berupa tingkat penempatan tenaga kerja dan terbukanya peluang usaha bagi lulusan pelatihan.
Sejalan dengan itu, ia meminta setiap program pelatihan vokasi ditopang oleh data yang akurat dan mudah ditelusuri. Data tersebut mencakup identitas peserta hingga kondisi pascapelatihan, termasuk status penyerapan kerja atau pengembangan usaha mandiri. Pendekatan berbasis data dinilai penting agar kebijakan pelatihan vokasi lebih tepat sasaran dan dapat dievaluasi secara berkelanjutan.
Di sisi lain, Yassierli menyoroti keterbatasan daya tampung Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) di lingkungan Kemnaker. Saat ini, balai pelatihan hanya mampu melatih sekitar 70 ribu orang per tahun atau setara sekitar 1 persen dari total pengangguran nasional. Angka tersebut dinilai belum sebanding dengan kebutuhan dan dinamika pasar tenaga kerja.
Kondisi itu mendorong Kemnaker menyiapkan transformasi balai pelatihan agar lebih adaptif dan relevan. Transformasi mencakup penguatan fungsi balai sebagai pusat pelatihan vokasi, talent and innovation hub, pusat pelatihan dan penempatan tenaga kerja penyandang disabilitas, serta pusat rujukan peningkatan produktivitas usaha kecil dan menengah.
“Tujuan utamanya membangun kembali marwah dan kebanggaan Kemnaker melalui kinerja yang benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Binalavotas Darmawansyah menyatakan rapat koordinasi tersebut menjadi momentum penting untuk menyelaraskan program prioritas lintas unit. Sinkronisasi diperlukan agar pelatihan vokasi, penempatan tenaga kerja, dan perluasan kesempatan kerja berjalan berkesinambungan.
“Sinkronisasi dilakukan pada aspek waktu, mekanisme, hingga standar operasional prosedur (SOP) agar program ini selaras dan mudah dimonitor,” kata Darmawansyah.
Dengan pendekatan tersebut, Kemnaker berharap pelatihan vokasi tidak hanya meningkatkan kompetensi tenaga kerja, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap penurunan pengangguran dan penguatan ekosistem ketenagakerjaan nasional.
[UHD]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.
