Dailykaltim.co – Retinoblastoma merupakan jenis kanker mata yang paling sering ditemukan pada bayi dan anak usia di bawah tiga tahun. Penyakit ini berkembang pada retina, yakni lapisan di bagian belakang mata yang berfungsi menangkap cahaya dan mengirimkan sinyal visual ke otak.

Kanker ini dapat tumbuh ke dalam bola mata maupun menyebar ke luar hingga menembus lapisan mata. Retinoblastoma dapat terjadi pada satu mata (unilateral) maupun kedua mata (bilateral). Meski paling banyak ditemukan pada bayi dan balita, kasus pada anak berusia di atas lima tahun relatif jarang terjadi.

Retinoblastoma berkaitan dengan perubahan atau mutasi pada gen RB1. Berdasarkan penyebabnya, penyakit ini terbagi menjadi dua jenis, yakni retinoblastoma herediter dan non-herediter.

Pada retinoblastoma non-herediter, mutasi gen terjadi secara acak setelah anak lahir dan umumnya hanya menyerang satu mata. Sementara itu, retinoblastoma herediter terjadi ketika anak mewarisi gen RB1 yang bermutasi dari salah satu orang tua. Jenis ini biasanya muncul sejak usia sangat muda dan lebih sering menyerang kedua mata.

Anak yang memiliki riwayat keluarga retinoblastoma, baik dari orang tua maupun saudara kandung, dianjurkan menjalani pemeriksaan mata secara rutin sejak lahir. Pemeriksaan pertama disarankan dilakukan dalam satu bulan pertama kehidupan.

Gejala retinoblastoma dapat berbeda pada setiap anak, tergantung stadium penyakit. Namun, salah satu tanda yang paling sering ditemukan adalah leukokoria atau yang dikenal sebagai gejala “mata kucing”. Kondisi ini ditandai dengan pantulan cahaya berwarna putih, abu-abu, perak, atau kekuningan pada pupil saat terkena cahaya, berbeda dengan pantulan merah yang normal.

Tanda lain yang perlu diwaspadai antara lain mata juling (strabismus), kesulitan mengikuti pergerakan objek, mata terasa nyeri sehingga anak menjadi lebih rewel, mata menonjol keluar (proptosis bulbi), serta mata kemerahan atau bengkak tanpa penyebab yang jelas.

Penurunan kemampuan penglihatan juga dapat terjadi, meski sering kali tidak disadari, terutama apabila hanya satu mata yang terkena dan mata lainnya masih berfungsi dengan baik.

Untuk memastikan diagnosis retinoblastoma, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan. Diagnosis pasti umumnya ditegakkan melalui pemeriksaan histopatologi terhadap jaringan bola mata yang telah diangkat melalui prosedur enukleasi. Pengambilan sampel jaringan menggunakan jarum atau biopsi tidak dianjurkan karena berisiko menyebabkan penyebaran sel kanker.

Pemeriksaan penunjang seperti USG mata dapat membantu mendeteksi adanya massa atau tumor di dalam mata. Sementara CT scan dan MRI digunakan untuk menilai kemungkinan penyebaran tumor ke jaringan sekitar mata maupun otak.

Retinoblastoma juga dikenal sebagai satu-satunya kanker pada anak yang dapat dideteksi sejak dini dengan pemeriksaan sederhana. Deteksi awal dapat dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama, termasuk puskesmas, menggunakan lampu senter atau melalui red reflex test dengan alat oftalmoskop.

Apabila pantulan merah pada mata tidak muncul atau justru terlihat putih, anak perlu segera dirujuk untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Deteksi dini dinilai berperan penting dalam meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan dan menurunkan angka kematian akibat retinoblastoma.

Penanganan retinoblastoma disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit. Salah satu metode yang digunakan adalah kemoterapi untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan sel kanker. Terapi ini dapat diberikan sebelum operasi guna mengecilkan ukuran tumor atau setelah operasi untuk mencegah penyebaran kanker.

Selain kemoterapi, radioterapi juga dapat menjadi pilihan pada kondisi tertentu, terutama apabila tumor tidak dapat dioperasi atau tidak memberikan respons yang memadai terhadap pengobatan lainnya.

Pada kasus yang lebih lanjut, operasi pengangkatan bola mata atau enukleasi menjadi salah satu tindakan utama. Prosedur ini dilakukan apabila ukuran tumor sudah besar, fungsi penglihatan tidak dapat dipertahankan, atau kanker tidak merespons terapi lain. Setelah operasi, pasien dapat menggunakan mata palsu yang disesuaikan dengan kondisi mata yang sehat.

Setelah pengobatan selesai, anak tetap memerlukan pemantauan jangka panjang setidaknya selama dua tahun untuk memastikan tidak terjadi kekambuhan maupun penyebaran penyakit. Pendampingan psikologis bagi anak dan keluarga juga menjadi bagian penting dari proses pemulihan, bersama dengan edukasi mengenai perawatan mata palsu dan kesehatan secara menyeluruh.

[UHD]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.

Exit mobile version