Dailykaltim.co, Kutim – Komoditas nanas dari Desa Hiba Lestari, Kecamatan Batu Ampar, mulai menarik perhatian pasar dalam beberapa waktu terakhir. Selain dikenal memiliki cita rasa manis, hasil panen dari kawasan tersebut tidak hanya dipasarkan di Kutai Timur, tetapi juga telah menjangkau sejumlah daerah lain seperti Samarinda dan Berau.
Di tengah meningkatnya permintaan pasar, peluang pengembangan nanas tidak lagi terbatas pada penjualan buah segar. Pemanfaatan bagian lain dari tanaman nanas, terutama serat daun, mulai dilirik karena dinilai memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan.
Potensi itu menjadi salah satu fokus yang mulai dipetakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutai Timur bersama sejumlah instansi terkait. Selain mendorong pengolahan buah menjadi produk bernilai tambah, pemerintah daerah juga melihat peluang pengembangan industri berbasis serat daun nanas yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Kepala Bidang Industri dan Perdagangan Disperindag Kutim, Achmad Dony Evriady, mengatakan produksi nanas dari petani setempat cukup besar sehingga membuka peluang pengembangan produk turunan.
” Karena produksi dari petani kita saat ini cukup banyak dan belum di manfaatkan secara optimal. Maka, kami mencoba untuk untuk pengembangkan serat buah nanas bersama dengan instansi terkait,” ujar Dony.
Untuk melihat potensi tersebut secara langsung, Disperindag Kutim bersama Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) serta Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) melakukan kunjungan lapangan ke Desa Hiba Lestari. Kegiatan itu sekaligus menjadi ajang koordinasi dengan pemerintah desa dan petani guna memetakan peluang serta tantangan pengembangan komoditas nanas.
Menurut Dony, informasi yang diperoleh menunjukkan luas lahan produktif nanas di desa tersebut telah mencapai ratusan hektare.
“Dari informasi yang di sampaikan bahwa lahan produktif yang di gunakan untuk pengembangan nanas di sana (Himba Lestari) sudah mencapai 250 hektare,“ucap Dony biasa ia disapa.
Ia menjelaskan, daun nanas yang selama ini belum banyak dimanfaatkan sebenarnya memiliki potensi ekonomi cukup besar. Serat yang dihasilkan dikenal kuat, ringan, dan ramah lingkungan sehingga dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan industri.
Pemanfaatannya antara lain sebagai bahan baku tekstil, kerajinan tangan, bahan komposit, hingga produk kertas. Potensi tersebut bahkan mulai menarik minat pasar dari luar daerah.
“Bahkan sudah ada tawaran masuk dari Jawa Barat, dan untuk satu kilogramnya nilainya cukup menjanjikan yakni Rp 12000, ini menjadi salah satu bukti kalau memang komoditas ini (serat daun nanas) memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan,”ungkapnya.
Meski peluang pasar mulai terbuka, pengembangan komoditas nanas di Hiba Lestari masih menghadapi sejumlah kendala. Faktor geografis dan keterbatasan infrastruktur dinilai menjadi tantangan yang perlu diatasi agar pengembangan usaha berbasis nanas dapat berjalan lebih optimal.
Karena itu, Disperindag berencana membangun koordinasi lintas sektor guna menyusun langkah pengembangan yang dapat memberikan manfaat ekonomi lebih besar bagi petani maupun daerah.
“Yang penting mereka ada perhatian dulu. Karena kalau tidak ada perhatian dari pemerintah, dampakanya akan langsung terasa kepada para petani. salah satuny adengan alih fungsi tanam, nah, itu yang kita antisipasi,” pungkasnya.
[UHD]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.

