Dailykaltim.co – Pemanfaatan teknologi bedah robotik di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan berbasis teknologi. Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi ini mulai digunakan di sejumlah rumah sakit dan dinilai mampu meningkatkan presisi tindakan operasi serta mempercepat pemulihan pasien.

Perkembangan tersebut turut diiringi rencana pengadaan 40 unit robot bedah untuk rumah sakit pemerintah, perluasan pelatihan tenaga medis, pengembangan kecerdasan artifisial (AI) kesehatan, hingga penguatan transfer teknologi bagi industri alat kesehatan dalam negeri.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan robotik menjadi salah satu teknologi kesehatan yang saat ini mendapat perhatian karena potensinya dalam meningkatkan kualitas layanan medis.

“Robotik adalah tren global. Teknologi ini memberikan kualitas layanan yang lebih baik bagi pasien, operasi lebih presisi, nyeri lebih ringan, dan masa rawat lebih singkat. Tugas pemerintah adalah memastikan layanan ini semakin mudah diakses, berkualitas, dan biayanya semakin terjangkau,” kata Menkes Budi.

Meski penggunaan bedah robotik terus meningkat, Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara di kawasan Asia, seperti Singapura, Thailand, Malaysia, hingga Vietnam. Karena itu, berbagai upaya dilakukan untuk memperluas pemanfaatan teknologi tersebut sekaligus meningkatkan kompetensi tenaga medis yang mengoperasikannya.

Selain robotik, pengembangan layanan kesehatan berbasis teknologi juga diarahkan pada pemanfaatan kecerdasan artifisial dan bioteknologi. Integrasi data kependudukan, data klinis, hingga data genomik dinilai menjadi fondasi penting dalam pengembangan sistem AI kesehatan di masa mendatang.

“AI bukan menggantikan dokter, tetapi menjadi augmented intelligence yang membantu dokter mengambil keputusan berdasarkan pembelajaran dari ribuan hingga jutaan data klinis,” jelas Menkes.

Di sisi lain, pengembangan bedah robotik juga dinilai berpotensi mendorong pertumbuhan industri alat kesehatan nasional. Transfer teknologi dalam pengadaan robot bedah diharapkan dapat membuka peluang produksi komponen pendukung di dalam negeri sekaligus menekan biaya layanan di masa depan.

Rektor ITB Prof. Tatacipta Dirgantara menilai Indonesia memiliki kapasitas riset yang cukup kuat di bidang robotika, teknik biomedis, dan kecerdasan artifisial. Menurut dia, kolaborasi antara peneliti dan tenaga medis menjadi faktor penting dalam menghasilkan inovasi yang sesuai kebutuhan layanan kesehatan nasional.

“Fasilitasi dari Kementerian Kesehatan sangat penting agar peneliti dan dokter dapat bekerja bersama mengembangkan teknologi kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia. Dengan kolaborasi ini, kami optimistis Indonesia mampu menghasilkan inovasi alat kesehatan yang berdaya saing global,” ujarnya.

Presiden Komisaris PT Bundamedik Tbk dr. Ivan Rizal Sini menyebut hampir 1.000 tindakan bedah robotik yang telah dilakukan di Rumah Sakit Bunda Jakarta menunjukkan semakin luasnya pemanfaatan teknologi tersebut di Indonesia.

“Kami percaya pengalaman harus dibagikan. Semakin banyak dokter Indonesia yang menguasai bedah robotik, semakin besar manfaat yang dapat dirasakan masyarakat,” kata Ivan.

Pengembangan bedah robotik tidak hanya dipandang sebagai inovasi layanan kesehatan, tetapi juga bagian dari upaya memperluas akses teknologi medis modern, meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan, serta memperkuat ekosistem riset dan industri kesehatan nasional.

[UHD]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.

Exit mobile version