Dailykaltim.co – Kekayaan budaya pesisir Kepulauan Derawan dan Maratua terus mendapat perhatian sebagai bagian dari pengembangan pariwisata berbasis budaya di Kalimantan Timur. Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui pengembangan Batik Derawan-Maratua serta revitalisasi Tari Dalling yang diperkenalkan sebagai identitas budaya baru masyarakat pesisir Berau.
Gagasan tersebut mengemuka dalam peluncuran program “Dalling dan Batik untuk Derawan, Maratua, dan Budaya”yang digagas Ikatan Pencinta Batik Nusantara (IPBN) di Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan, Bambang Wibawarta, menilai potensi Kepulauan Derawan dan Maratua tidak hanya terletak pada kekayaan alamnya, tetapi juga budaya masyarakat pesisir yang memiliki nilai penting untuk diperkenalkan lebih luas.
“Ketika ombak diterjemahkan menjadi motif, penyu menjadi simbol kehidupan, dan alam diwujudkan dalam tarian, sesungguhnya masyarakat sedang memindahkan ingatan alam menjadi ingatan budaya,” ujarnya.
Menurut Bambang, budaya memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan sekaligus membuka ruang inovasi dan aktivitas ekonomi masyarakat.
“Budaya yang kuat bukan budaya yang hanya disimpan, tetapi budaya yang terus hidup, dipelajari, digunakan, dan menginspirasi,” katanya.
Dalam program tersebut, IPBN mengembangkan delapan motif Batik Derawan-Maratua yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya masyarakat pesisir Kabupaten Berau. Seluruh motif tersebut telah didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sebagai bentuk perlindungan terhadap karya budaya sekaligus meningkatkan nilai ekonominya.
Project Leader Pengembangan Batik dan Tari Dalling Derawan-Maratua, Nazam, mengatakan peluncuran ini menjadi langkah awal memperkenalkan identitas budaya baru dari Kalimantan Timur kepada masyarakat yang lebih luas.
“Tahapan berikutnya difokuskan pada pengenalan melalui media sosial agar masyarakat memahami filosofi di balik setiap motif, bukan hanya mengenal batiknya,” ujarnya.
Pada peluncuran perdana, IPBN memperkenalkan tiga motif utama, yakni Bokko’ Lumangi yang terinspirasi dari penyu Derawan sebagai simbol ketangguhan dan keseimbangan hidup, Buung Embal Naban yang mengangkat keunikan ubur-ubur tak menyengat Danau Kakaban sebagai lambang harmoni ekosistem, serta Goyak yang merepresentasikan dinamika ombak dan kekayaan laut tropis Derawan.
Selain pengembangan batik, program tersebut juga mencakup revitalisasi Tari Dalling, tarian tradisional masyarakat Suku Bajau di Kepulauan Derawan dan Maratua. Pengembangan dilakukan melalui penyempurnaan koreografi, aransemen musik, tata busana, hingga strategi promosi digital tanpa menghilangkan nilai tradisional yang melekat pada tarian tersebut.
Salah satu upaya yang disiapkan adalah kampanye Dalling TikTok Trends untuk memperkenalkan Tari Dalling kepada generasi muda sehingga lebih dikenal sebagai bagian dari ekspresi budaya populer.
Dewan Pembina IPBN, Sapta Nirwandar, menilai perpaduan kekayaan alam dan budaya menjadi kekuatan utama Derawan dan Maratua sebagai destinasi wisata.
“Derawan memiliki modal luar biasa. Alamnya kelas dunia, ditambah budaya masyarakat Bajau, tarian tradisional, dan kini motif batik khas yang menjadi identitas baru. Kombinasi ini menjadi nilai tambah yang tidak dimiliki banyak destinasi wisata lain,” katanya.
Program “Dalling dan Batik untuk Derawan, Maratua, dan Budaya” merupakan bagian dari Program Layanan Produksi Bidang Kebudayaan yang didukung Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan dan LPDP. Inisiatif tersebut diharapkan memperkuat identitas budaya Kepulauan Derawan dan Maratua sekaligus membuka peluang pengembangan pariwisata berbasis budaya dan ekonomi kreatif di Kabupaten Berau.
[UHD]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.
