Dailykaltim.co – Unggahan dari kafe populer, foto mengenakan barang bermerek, pamer gawai terbaru, hingga membagikan pencapaian pribadi kini menjadi pemandangan lumrah di media sosial. Aktivitas tersebut kerap dianggap sebagai flexing atau perilaku pamer untuk mendapatkan perhatian.

Namun, flexing tidak selalu muncul karena keinginan menyombongkan diri. Di balik unggahan yang tampak sempurna, bisa terdapat tekanan untuk terlihat sukses, bahagia, dan tidak tertinggal dari lingkungan pergaulan.

Fenomena itu dibahas dalam penelitian berjudul Flexing di Media Sosial: Antara Gaya Hidup dan Tekanan Sosial pada Mahasiswa Sosiologi Universitas Sriwijaya. Artikel yang ditulis Selvia Febiani, Dewi Pergiwati Wijaya, dan Sharen Sakita tersebut diterbitkan dalam Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Pendidikan pada Mei 2026.

Hasil kajian menunjukkan bahwa flexing berada di antara gaya hidup, pembentukan citra diri, dan tekanan sosial. Media sosial bukan lagi sekadar tempat berbagi informasi, tetapi telah menjadi panggung untuk menampilkan versi terbaik dari kehidupan seseorang.

Pengguna dapat memilih foto, aktivitas, dan pencapaian yang ingin diperlihatkan kepada publik. Sementara itu, persoalan pribadi, kegagalan, maupun keadaan yang dianggap kurang menarik cenderung disembunyikan.

Dalam kehidupan mahasiswa, flexing dapat terlihat melalui unggahan saat nongkrong di kafe yang sedang populer, memakai pakaian bermerek, membeli gawai baru, berlibur, atau menunjukkan pencapaian akademik.

Membagikan aktivitas tersebut tentu tidak otomatis disebut flexing. Perilaku itu mulai mengarah pada flexing ketika unggahan digunakan untuk membangun kesan status tertentu, memperoleh pengakuan, atau mempertahankan citra di hadapan orang lain.

Ketika Barang Menjadi Simbol Status

Flexing berkaitan erat dengan konsumsi simbolik. Barang atau pengalaman tidak lagi dipilih hanya berdasarkan kegunaan, tetapi juga karena memiliki nilai sosial yang dapat menunjukkan selera, kemampuan ekonomi, dan status seseorang.

Gawai terbaru, produk perawatan kulit, pakaian bermerek, hingga kunjungan ke tempat populer dapat berubah menjadi “bahasa sosial” di ruang digital. Apa yang digunakan dan dikunjungi ikut membentuk cara orang lain memandang pemilik akun.

Akibatnya, batas antara kebutuhan dan keinginan semakin kabur. Barang yang sebenarnya tidak diperlukan dapat terasa penting setelah berulang kali muncul di media sosial dan digunakan oleh lingkungan pergaulan.

Fitur suka, komentar, jumlah tayangan, dan pengikut turut memperkuat kebiasaan tersebut. Respons positif menjadi bentuk validasi yang mendorong pengguna mengunggah konten serupa secara berulang.

Algoritma media sosial juga cenderung menampilkan konten dengan interaksi tinggi. Paparan terhadap unggahan yang memperlihatkan kemewahan, keberhasilan, atau kehidupan menyenangkan kemudian dapat membentuk standar hidup yang dianggap ideal.

Flexing dan Ketakutan Tertinggal

Kajian tersebut juga menghubungkan flexing dengan Fear of Missing Out atau FoMO. Ketika melihat orang lain membeli barang baru, menghadiri konser, berlibur, atau menikmati tempat populer, seseorang dapat merasa harus melakukan hal serupa agar tidak dianggap tertinggal.

Perbandingan sosial yang berlangsung terus-menerus berpotensi menimbulkan perasaan tidak cukup. Pengguna membandingkan kehidupan sehari-harinya dengan bagian terbaik dari kehidupan orang lain yang telah dipilih dan dipoles sebelum ditampilkan.

Dalam kondisi tersebut, flexing tidak selalu dilakukan agar terlihat lebih tinggi. Sebagian orang justru melakukannya karena takut dipandang lebih rendah atau tidak diterima dalam kelompok sosialnya.

Dorongan mempertahankan citra digital dapat memengaruhi kehidupan nyata. Seseorang bisa membeli barang yang tidak dibutuhkan, mengikuti tren di luar kemampuan, atau memaksakan diri terlihat baik-baik saja demi menjaga kesan yang telah dibangun.

Meski demikian, penelitian tersebut menggunakan metode studi literatur. Peneliti tidak melakukan wawancara, survei, ataupun observasi langsung terhadap mahasiswa Sosiologi Universitas Sriwijaya. Karena itu, hasilnya lebih tepat dibaca sebagai gambaran umum mengenai hubungan flexing, gaya hidup, FoMO, dan tekanan sosial di kalangan mahasiswa serta Generasi Z.

Kajian ini setidaknya memperlihatkan bahwa perilaku pamer tidak sesederhana keinginan menunjukkan kemewahan. Flexing dapat menjadi ekspresi diri, strategi membangun identitas, sekaligus tanda adanya tekanan untuk terus terlihat berhasil di ruang digital.

[RRI]

*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.

Exit mobile version