Dailykaltim.co, Penajam – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Penajam Paser Utara (PPU) mencatat karakteristik kejadian kebakaran hutan dan lahan atau karhutla pada 2026 lebih variatif dibandingkan beberapa periode sebelumnya. Kejadian tidak hanya muncul di titik-titik yang selama ini dikenal rawan, tetapi juga menyebar ke sejumlah lokasi baru.

Berdasarkan rekap penanganan karhutla BPBD PPU, hingga 25 Agustus 2026 tercatat 63 kejadian karhutla dengan total luasan terdampak 56,51 hektare. Kecamatan Penajam menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, yakni 39 kejadian seluas 41,43 hektare. Disusul Babulu 14 kejadian seluas 10,89 hektare, Sepaku 8 kejadian seluas 2,26 hektare, dan Waru 2 kejadian seluas 1,94 hektare. 

Kepala BPBD PPU, Nurlaila, mengatakan sebaran kejadian tahun ini berbeda dengan pola karhutla pada tahun-tahun sebelumnya. Pada beberapa periode terdahulu, kejadian besar cenderung terkonsentrasi di titik tertentu.

“Jadi memang gambaran kejadian di 2026 ini lebih variatif daerahnya. Di 2018, 2019, 2023, itu lebih banyak ke Gunung Steleng, ke Giri Purwa yang besar, Kelurahan Petung yang besar, mungkin kecil-kecil di area Waru dan Babulu,” ujar Nurlaila.

Menurut Nurlaila, titik-titik yang selama ini dikenal rawan memang masih muncul dalam catatan penanganan. Namun, tahun ini BPBD juga menangani kejadian di lokasi yang tidak selalu menjadi titik utama dalam siklus karhutla sebelumnya.

“Tapi di tahun ini lebih variatif. Seperti di Sepan itu tidak pernah kami lakukan penanganan di tahun-tahun sebelumnya di siklus El Nino,” katanya.

Variasi lokasi tersebut juga terlihat dari data hotspot. Rekap titik hotspot 2026 mencatat 55 titik hotspot yang tersebar di empat kecamatan. Penajam menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak, yakni 25 titik. Babulu mencatat 17 titik, Waru 7 titik, dan Sepaku 6 titik. 

Nurlaila menyebut, pergeseran sebaran ini menjadi perhatian BPBD karena pola penanganan tidak bisa hanya berfokus pada titik langganan. Setiap lokasi memiliki karakter lahan, material terbakar, akses jalan, hingga sumber air yang berbeda.

Kondisi itu membuat BPBD harus menyesuaikan strategi penanganan. Area yang sebelumnya jarang terbakar tetap perlu diantisipasi karena kejadian tahun ini menunjukkan potensi karhutla dapat muncul lebih luas.

“Itu merupakan area baru untuk kegiatan penanganan karhutla. Jadi karakteristiknya agak bervariasi lokasinya di 2026 ini,” jelasnya.

Meski sebaran lebih variatif, sejumlah titik lama tidak sepenuhnya lepas dari pemantauan. Gunung Steleng, Giripurwa, Petung, Waru, dan Babulu masih menjadi bagian dari wilayah yang diperhatikan, terutama saat kondisi cuaca panas dan material lahan mudah terbakar.

Nurlaila menambahkan, beberapa lokasi yang biasanya muncul dalam catatan karhutla masih terjadi pada 2026, tetapi penanganannya relatif dapat diselesaikan lebih cepat dan tidak berkembang terlalu besar.

“Untuk sementara 2026, yang biasanya Kelurahan Petung, Giri Purwa itu ada kejadian, tapi bisa langsung diselesaikan dan tidak terlalu besar,” katanya.

BPBD PPU menilai pola sebaran yang lebih luas ini menjadi peringatan agar kewaspadaan tidak hanya diarahkan pada lokasi lama. Pemantauan hotspot, laporan masyarakat, serta respons cepat di lapangan tetap dibutuhkan agar api tidak berkembang menjadi kejadian besar.

Dengan 63 kejadian yang telah tercatat hingga akhir Agustus, BPBD PPU menegaskan penanganan karhutla tahun ini membutuhkan kesiapan lintas wilayah. Setiap kecamatan memiliki risiko berbeda dan perlu mendapat perhatian sesuai karakter kejadian di lapangan.

[PRD | ADV DISKOMINFO PPU]

*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.

Exit mobile version