Dailykaltim.co, Penajam – Pelatihan Psychological First Aid (PFA) yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Penajam Paser Utara (PPU) tidak hanya ditujukan bagi tenaga profesional. 

Pemerintah daerah ingin pendekatan pertolongan pertama psikologis dipahami lebih luas oleh pihak-pihak yang berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Kepala DP3AP2KB PPU, Jansje Grace Makisurat, mengatakan penanganan awal terhadap korban atau penyintas krisis sering kali melibatkan banyak pihak. Karena itu, pemahaman dasar mengenai PFA perlu dimiliki bukan hanya oleh psikolog, tetapi juga petugas layanan, relawan, tenaga kesehatan, tenaga pendidikan, hingga aparat penegak hukum.

“Pendekatan ini tidak hanya diperuntukkan bagi tenaga profesional, tetapi juga penting dipahami oleh petugas layanan, relawan, tenaga pendidikan, tenaga kesehatan, aparat penegak hukum, dan seluruh pihak yang berinteraksi langsung dengan masyarakat,” ujar Jansje.

Menurutnya, dalam situasi krisis, orang pertama yang ditemui korban belum tentu tenaga psikolog. Bisa saja korban pertama kali bertemu tenaga kesehatan, guru, aparat, relawan, petugas layanan perempuan dan anak, atau unsur masyarakat lain. Karena itu, respons awal dari pihak-pihak tersebut akan sangat menentukan rasa aman korban.

Pelatihan ini menghadirkan narasumber Aulia Suhesty, Psikolog sekaligus dosen Program Studi Psikologi Universitas Mulawarman. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari peningkatan kapasitas lembaga penyedia layanan perlindungan perempuan kewenangan kabupaten  dan kota. 

Dalam undangan resmi, PFA disebut sebagai kompetensi penting untuk memberi dukungan awal secara emosional dan psikologis kepada korban atau penyintas kekerasan, bencana, maupun situasi krisis lainnya.

Jansje menilai, pelatihan ini penting untuk menyamakan pemahaman para pihak. Sebab, korban yang mengalami tekanan psikologis membutuhkan respons yang tepat, bukan pertanyaan atau tindakan yang justru membuatnya semakin tertekan.

“Melalui kegiatan ini, Pemda melalui DP3AP2KB PPU berupaya meningkatkan kapasitas peserta dalam memahami konsep dasar PFA, keterampilan komunikasi empatik, serta langkah-langkah pendampingan awal yang aman dan tepat bagi individu yang mengalami tekanan psikologis akibat situasi krisis,” jelasnya.

Keterampilan komunikasi empatik menjadi salah satu aspek penting. Dalam kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, misalnya, korban membutuhkan pendamping yang mampu mendengar tanpa menghakimi, menjaga kerahasiaan, serta membantu korban mengakses layanan lanjutan sesuai kebutuhan.

[PRD | ADV DP3AP2KB PPU]

*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.

Exit mobile version