Dailykaltim.co – Kementerian Agama membuka pendaftaran program Yasalūnaka ‘an al-Ahillah: Hilal Observation Coaching, pelatihan edukasi pengamatan hilal yang menyasar kreator konten digital dan influencer muda. Program ini ditujukan bagi peserta berusia maksimal 35 tahun, berdomisili di wilayah Jabodetabek, serta memiliki akun media sosial aktif dengan sedikitnya 3.000 pengikut.
Program ini menjadi bagian dari penguatan literasi publik terkait penentuan awal bulan Hijriah, termasuk awal Ramadan 1447 Hijriah. Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Arsad Hidayat mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk membantu masyarakat memahami proses penetapan awal Ramadan melalui pendekatan keilmuan dan syariat.
“Persoalan hilal bukan isu baru. Sejak masa Rasulullah, umat sudah bertanya tentangnya. Karena itu, penjelasannya harus berbasis ilmu, bukan asumsi atau spekulasi,” ujar Arsad Hidayat, Minggu (8/2/2026).
Kegiatan pelatihan dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 27 Februari 2026, pukul 08.30–12.00 WIB di Auditorium HM Rasjidi, Jalan MH Thamrin Nomor 6, Jakarta Pusat. Pelaksanaan dilakukan secara hybrid dengan kombinasi pertemuan langsung dan daring.
Arsad menilai peran kreator digital semakin strategis di tengah derasnya arus informasi di ruang digital. Ia menilai pemahaman yang tepat tentang metode hisab dan rukyat diperlukan agar informasi yang disampaikan kepada publik tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya mempelajari hasil penetapan awal bulan Hijriah, tetapi juga memahami proses ilmiah di baliknya, mulai dari konsep hilal, parameter astronomi, hingga mekanisme pengambilan keputusan pemerintah.
“Kami ingin para konten kreator memahami prosesnya secara menyeluruh. Dengan begitu, konten yang disampaikan kepada masyarakat bersifat edukatif, menyejukkan, dan memperkuat kepercayaan publik,” katanya.
Program ini dikemas melalui pendekatan edukasi, simulasi, dan visualisasi pengamatan hilal. Peserta juga akan diperkenalkan pada instrumen rukyat serta metode penyampaian informasi falak yang sederhana namun tetap akurat.
Menurut Arsad, Kementerian Agama terus membuka ruang kolaborasi dengan generasi muda untuk memperkuat literasi keislaman yang moderat dan berbasis ilmu pengetahuan.
“Dengan edukasi yang tepat, perbedaan dalam penentuan awal bulan dapat disikapi secara dewasa, saling menghormati, dan tetap dalam bingkai persatuan,” ujar Arsad.
Sebanyak 30 peserta dengan jumlah pengikut terbanyak akan mengikuti kegiatan secara langsung. Selain itu, pelatihan juga terbuka bagi 1.000 peserta umum yang mengikuti secara daring.
Kementerian Agama berharap peserta pelatihan dapat menjadi mitra strategis dalam menyebarkan literasi keislaman berbasis ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas, khususnya terkait penetapan awal Ramadan.
[UHD]
Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.
