Dailykaltim.co, Penajam – Penyaluran Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk kelompok 3B atau bumil, busui, dan balita mulai dilakukan di Penajam Paser Utara (PPU). Distribusi perdana sebanyak 100 porsi digelar di Kelurahan Nipah-nipah, Selasa (19/5/2026), sebagai langkah awal memperkuat pemenuhan gizi bagi kelompok yang dinilai paling rentan.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) PPU, Jansje Grace Makisurat, mengatakan penyaluran perdana ini menjadi awal dari distribusi rutin MBG 3B. Program tersebut akan diberikan setiap hari kerja, mulai Senin hingga Sabtu.

“Ini hari pertama dibagikan MBG B3 nanti seterusnya dibagikan, senin sampai sabtu, setiap hari,” ujar Jansje.

Pada distribusi perdana ini, sebanyak 100 porsi MBG 3B disalurkan melalui kolaborasi dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Rinciannya, SPPG Polres PPU menyalurkan 60 porsi, sementara SPPG RT 2 menyalurkan 40 porsi.

Jansje menjelaskan, sasaran penerima MBG 3B mencakup balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Untuk balita, bantuan makanan bergizi diberikan hingga anak berusia lima tahun. Sementara bagi ibu hamil, pemberian dilakukan sejak masa kehamilan hingga berlanjut pada masa menyusui.

“Untuk Balita dia diberikan sampai usia 5 tahun. Kalau ibu hamil mulai dari dia hamil sampai dia menyusui. Kalau ibu menyusui sampai dia selesai masa menyusui 40 hari,” katanya.

Menurut Jansje, fokus pada kelompok 3B dinilai penting karena mereka berada dalam fase yang sangat menentukan kualitas kesehatan keluarga, terutama tumbuh kembang anak. Balita berada pada masa pertumbuhan, ibu hamil sedang mempersiapkan kondisi janin, sementara ibu menyusui membutuhkan asupan yang cukup untuk pemulihan dan pemberian ASI.

“Menurut kami, ini program yang bagus ya, karena sebenarnya lebih tepat sasaran kalau pemberian makanan kepada kelompok B3 ini,” ujarnya.

Ia menilai, pemberian makanan bergizi kepada kelompok 3B lebih relevan karena menyasar langsung kelompok yang memiliki risiko tinggi dalam persoalan gizi. Jika intervensi diberikan sejak masa kehamilan hingga anak berusia balita, peluang mencegah gangguan pertumbuhan dapat lebih besar.

“Pasalnya, karena mereka kan kita anggap kelompok berisiko karena ada balita, masa-masa pertumbuhannya kita sudah cekat sejak awal, harapannya jangan sampai stunting,” jelasnya.

Jansje menekankan, pencegahan stunting harus dilakukan sejak awal. Intervensi tidak bisa hanya menunggu ketika anak sudah mengalami gangguan pertumbuhan. Karena itu, ibu hamil menjadi salah satu sasaran penting agar pemenuhan gizi dapat dimulai sejak masa kandungan.

“Seperti ibu hamil, kita sudah mempersiapkan. Harapannya, makanannya bergizi dan bisa melahirkan anak yang sehat dan tidak stunting. Begitu juga dengan ibu menyusui,” katanya.

Dalam konteks penanganan stunting, program MBG 3B dinilai dapat melengkapi berbagai upaya yang sudah berjalan di daerah. Selama ini, pemerintah daerah terus mendorong edukasi gizi, pendampingan keluarga, serta pemantauan tumbuh kembang anak melalui layanan kesehatan dan kader di lapangan.

Pemberian makanan bergizi secara rutin kepada kelompok sasaran diharapkan dapat menjadi dukungan nyata di tingkat keluarga. Terutama bagi keluarga yang membutuhkan akses lebih mudah terhadap makanan bergizi selama masa kehamilan, menyusui, dan pertumbuhan anak.

Jansje melihat program ini dapat membantu memperkuat pesan pencegahan stunting yang selama ini terus disampaikan kepada masyarakat. Edukasi gizi akan lebih kuat jika dibarengi dengan contoh makanan yang dikonsumsi langsung oleh kelompok sasaran.

“Menurut saya sih ini program yang lebih pas,” ujarnya.

[PRD | ADV DP3AP2KB PPU]

*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.

Exit mobile version