Oleh Abdullah Faiqul haq

Kalimantan Timur (Kaltim) selalu menghadirkan kesan sebagai wilayah yang berada di persimpangan antara tradisi dan masa depan. Di satu sisi, Kaltim memiliki kekayaan budaya yang kuat—mulai dari nilai kearifan lokal masyarakat Dayak yang menekankan harmoni dengan alam, hingga tradisi gotong royong masyarakat pesisir dan perkotaan. Di sisi lain, Kaltim kini menjadi pusat transformasi besar dengan hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN) yang membawa visi pembangunan berkelanjutan. Posisi ini membuat Kaltim bukan hanya sekadar provinsi yang kaya sumber daya, tetapi juga laboratorium sosial yang memperlihatkan bagaimana budaya lokal dan modernitas dapat berjalan berdampingan.

Salah satu hal yang paling menarik dari Kaltim adalah cara masyarakatnya menjaga nilai budaya di tengah laju pembangunan. Nilai adat Dayak, seperti penghormatan pada tanah, hutan, serta prinsip hidup “selaras dengan alam”, menjadi identitas penting yang terus diwariskan. Nilai-nilai seperti belus (tolong-menolong), besidoh (saling menghargai), dan konsep harmoni sosial antar-etnis menjadi modal sosial yang memperkuat kehidupan masyarakat. Keberadaan nilai budaya ini menjadi penyeimbang dari proses industrialisasi yang sejak lama hadir di Kaltim, baik melalui sektor pertambangan, energi, maupun pembangunan infrastruktur.

Dengan hadirnya IKN, Kaltim semakin diperhatikan dunia. Banyak orang melihat Kaltim sebagai simbol masa depan Indonesia—lebih hijau, lebih terencana, dan lebih multikultural. Namun bagi saya, kekuatan paling besar dari Kaltim bukan hanya pada proyek pembangunan besar, tetapi pada masyarakatnya yang adaptif. Masyarakat Kaltim mampu menerima perubahan, tetapi tetap memegang teguh prinsip hidup yang berakar dari leluhur. Ini menunjukkan bahwa modernisasi tidak harus memutus hubungan dengan nilai lokal; justru nilai lokal dapat menjadi pondasi pembangunan yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.

Secara pribadi, saya melihat Kaltim sebagai potret Indonesia yang ideal: daerah yang luas, budaya yang kaya, dan semangat masyarakat yang terbuka pada perubahan sambil tetap menjaga identitas. Jika pembangunan yang masuk dapat terus menghormati nilai-nilai lokal seperti yang dimiliki masyarakat Dayak—termasuk nilai keharmonisan, kebijaksanaan musyawarah, dan penghargaan terhadap alam—maka Kaltim tidak hanya akan maju, tetapi juga akan menjadi contoh etika pembangunan yang relevan bagi daerah lain di Indonesia. Kaltim adalah ruang harapan, tempat tradisi dan inovasi bisa hidup berdampingan tanpa saling menghilangkan.

*) Tanggung jawab atas opini ini sepenuhnya ada pada penulis sebagaimana tercantum, dan tidak mencerminkan pandangan atau kebijakan redaksi DailyKaltim.co.

Exit mobile version