Dailykaltim.co, Penajam – Ketersediaan sumber air menjadi salah satu faktor penentu dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Penajam Paser Utara (PPU). BPBD PPU menyebut, pemadaman akan semakin sulit ketika api membakar area luas, lahan gambut, atau material yang menyimpan bara, sementara sumber air di sekitar lokasi terbatas.

Kepala BPBD PPU, Nurlaila, mengatakan kendala di lapangan tidak hanya berkaitan dengan luas lahan terbakar. Kondisi material dan akses air juga sangat menentukan cepat lambatnya pemadaman.

“Kendalanya itu jika memang yang terbakar itu cukup luas, kemudian lahan gambut dan di situ tidak ada sumber air,” ujar Nurlaila.

Berdasarkan rekap penanganan karhutla BPBD PPU, kejadian karhutla di RT 06 Kelurahan Riko pada 25 Agustus 2026 lalu tercatat seluas 5,07 hektare. Sementara total karhutla hingga 25 Agustus tercatat 63 kejadian dengan luasan 56,51 hektare.

Menurut Nurlaila, kondisi tanpa sumber air di sekitar titik kebakaran membuat proses pemadaman tidak bisa dilakukan secara berkelanjutan. Petugas harus menunggu suplai air dari armada pendukung, sementara api di lapangan dapat terus merambat.

Ia menyebut, situasi akan lebih berat apabila kebakaran terjadi di lahan gambut. Karakter gambut yang menyimpan panas membuat api lebih sulit dikendalikan, apalagi ketika pasokan air tidak tersedia dekat lokasi.

“Kemudian, kalau itu pun lahan gambut akan semakin parah terbakarnya. Otomatis luasannya akan semakin bertambah,” katanya.

Selain gambut, tumpukan kayu juga menjadi tantangan tersendiri. Material semacam itu dapat menyimpan bara di bagian dalam, sehingga api berpotensi kembali menyala meski bagian permukaan terlihat sudah padam.

“Nah, itu kendalanya seperti itu kalau itu yang terbakar lahan gambut atau material tumpukan-tumpukan kayu dan di situ tidak ada sumber air,” jelasnya.

Nurlaila mengatakan, kondisi tersebut membuat penanganan karhutla membutuhkan waktu lebih panjang. Petugas tidak hanya memadamkan api yang terlihat, tetapi juga harus memastikan bara di bagian bawah material benar-benar mati.

Karena itu, BPBD PPU menilai pemetaan sumber air di wilayah rawan karhutla menjadi hal penting. Embung, parit, kolam, atau sumber air lain perlu diketahui sejak awal agar petugas dapat menentukan pola penanganan ketika kebakaran terjadi.

Menurut Nurlaila, keterbatasan air juga berdampak pada kebutuhan personel, armada, dan biaya penanganan. Semakin jauh sumber air dari titik kebakaran, semakin lama proses pemadaman berlangsung.

[PRD | ADV DISKOMINFO PPU]

*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.

Exit mobile version