Ekonomi Kabupaten Paser diperkirakan tetap menunjukkan tren positif pada 2026 meski sebelumnya sempat dipengaruhi dinamika ekonomi nasional, termasuk isu resesi, efisiensi, dan deregulasi pada 2025.

Data tersebut disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Paser saat memaparkan kondisi ekonomi daerah kepada Bupati Paser Fahmi Fadli di ruang kerja Bupati, Pendopo Lou Bepekat, Rabu (4/3/2026). Pertemuan tersebut juga membahas rencana pelaksanaan Sensus Nasional yang dijadwalkan berlangsung pada Mei hingga Juli 2026.

Kepala BPS Paser Bayu Agung Prasetyo menyebutkan kondisi ekonomi Paser pada 2026 relatif tidak jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Ia menilai stabilitas ekonomi yang tercapai dalam beberapa tahun terakhir menjadi indikator positif bagi pertumbuhan daerah.

“Pertumbuhan ekonomi saat ini berada di angka 3,61 persen,” jelas Bayu.

Ia menambahkan, jika dibandingkan dengan kondisi 2025, perekonomian daerah pada 2026 diperkirakan tetap stabil bahkan berpotensi lebih baik.

Selain itu, BPS juga mencatat adanya perubahan struktur ekonomi di Paser. Ketergantungan terhadap sektor pertambangan secara bertahap menurun, dari sebelumnya sekitar 61 persen menjadi 54,89 persen. Di sisi lain, sektor pertanian, kehutanan, perikanan, serta industri pengolahan menunjukkan peningkatan kontribusi terhadap perekonomian daerah.

Menurut Bayu, perubahan tersebut juga dipengaruhi pergeseran pola aktivitas ekonomi masyarakat yang mulai berkembang pada sektor kebutuhan primer, sekunder, hingga tersier. Aktivitas belanja daring, misalnya, dinilai ikut mendorong pertumbuhan pelaku usaha rumah tangga konsumen yang bergerak dalam penyediaan barang dan jasa.

Dalam kesempatan tersebut, BPS juga memaparkan sejumlah indikator sosial ekonomi terbaru. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Paser tercatat meningkat dari 75,13 pada 2024 menjadi 75,85 pada 2025.

Sementara itu, indeks rasio gini yang menggambarkan ketimpangan pendapatan tercatat naik tipis dari 0,271 menjadi 0,273.

Di sisi lain, angka kemiskinan di Paser menunjukkan penurunan dari 8,63 persen menjadi 8,13 persen. Tingkat pengangguran terbuka juga tercatat sebesar 4,62 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata Provinsi Kalimantan Timur yang mencapai 5,18 persen.

[UHD]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.

Exit mobile version