Dailykaltim.co, Kaltim – Sekitar sepertiga perekonomian Kalimantan Timur masih ditopang oleh batu bara. Besarnya ketergantungan terhadap sumber daya tak terbarukan tersebut mendorong pemerintah provinsi menyiapkan transformasi ekonomi menuju 2045 dengan mengembangkan sektor non-tambang dan sumber pertumbuhan baru.
Strategi tersebut dibahas dalam Diskusi Putaran 3 Forum Konsultasi Daerah untuk Percepatan Transformasi Ekonomi Kalimantan Timur di Ruang Ruhui Rahayu Kantor Gubernur Kaltim, Rabu, 19 Agustus 2026.
Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kaltim Wahyu Gatut Purboyo mengatakan sektor pertambangan batu bara saat ini memberikan kontribusi sekitar 34 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto Kaltim. Sektor tersebut juga menyerap sekitar 46 ribu tenaga kerja.
Namun, batu bara dinilai tidak dapat terus menjadi tumpuan utama perekonomian daerah. Selain jumlahnya terbatas, kinerja komoditas ini sangat dipengaruhi perubahan harga dan permintaan di pasar global.
“Transformasi ekonomi diperlukan untuk memperkuat sektor-sektor unggulan yang sudah ada sekaligus mempersiapkan industri-industri baru yang lebih berkelanjutan dan sesuai perkembangan global,” ujarnya.
Wahyu menjelaskan, transformasi ekonomi Kaltim tidak hanya diarahkan untuk memperkuat sektor yang sudah berkembang. Pemerintah daerah juga ingin mendorong kemunculan industri dan sumber pertumbuhan ekonomi baru yang mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Perubahan struktur ekonomi sebenarnya bukan hal baru bagi Kalimantan Timur. Pada era 1970-an, perekonomian daerah banyak bergantung pada sektor kehutanan. Dominasi tersebut kemudian bergeser ke pertambangan batu bara pada awal 2000-an.
Dalam perkembangannya, sektor lain mulai memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian daerah. Salah satunya ialah perkebunan, terutama komoditas kelapa sawit.
Meski demikian, sektor pertambangan hingga kini masih memegang peranan utama. Kondisi tersebut membuat pemerintah perlu mempersiapkan struktur ekonomi yang lebih beragam sebelum cadangan sumber daya alam berkurang atau permintaan batu bara mengalami penurunan.
“Pertambangan memang masih menjadi sektor utama, tetapi sumber daya itu tidak selamanya ada. Karena itu, kita harus menyiapkan ekonomi yang lebih berkelanjutan dan berkeadilan,” tegasnya.
Diskusi tersebut dipandu Ade Cahyat dari GIZ dan diikuti sejumlah pemangku kepentingan. Mereka antara lain Sekretaris Daerah Provinsi Kaltim Sri Wahyuni, Kepala Direktorat Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Daerah OJK Kaltim-Kaltara Misyar Borowisanto, serta Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim Bayuadi Hardiyanto.
Perwakilan organisasi usaha juga dilibatkan, antara lain Asosiasi Pengusaha Indonesia, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, dan Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia.
Forum konsultasi tersebut menjadi bagian dari penyusunan arah pembangunan ekonomi Kalimantan Timur hingga 2045. Pemerintah daerah menargetkan struktur ekonomi yang lebih tangguh dan inklusif serta tidak lagi bergantung pada sumber daya alam tak terbarukan.
[PRD]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.
