Dailykaltim.co – Pesta pernikahan di Tanjung Sakti, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, tidak berhenti setelah akad dan resepsi. Dalam tradisi Mantau Bunting, kedua pengantin akan berkeliling kampung, mengunjungi rumah-rumah warga, dan mencicipi hidangan yang telah disediakan.
Dalam bahasa masyarakat Tanjung Sakti, mantau berarti memanggil, sedangkan bunting berarti pengantin. Tradisi tersebut menjadi cara warga menyambut dan memperkenalkan pasangan pengantin sebagai anggota baru dalam lingkungan masyarakat.
Namun, tradisi yang diwariskan secara turun-temurun itu mulai tergerus perubahan gaya hidup. Prosesi yang panjang, perubahan pola pikir generasi muda, hingga pengaruh media sosial membuat Mantau Bunting tidak lagi dilaksanakan secara utuh.
Fenomena tersebut dibahas dalam penelitian berjudul Erosi Tradisi Lokal: Studi tentang Pudarnya Tradisi Mantau Bunting di Tengah Perubahan Gaya Hidup Generasi Muda. Kajian itu ditulis Diosi Putri Tasti bersama empat peneliti lainnya dan diterbitkan dalam Jurnal Adat dan Budaya pada Juni 2026.
Penelitian menggunakan pendekatan etnografi melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informannya mencakup tokoh adat, tokoh masyarakat, serta perwakilan generasi muda di Kecamatan Tanjung Sakti.
Bukan Sekadar Mengunjungi Rumah Warga
Dalam pelaksanaan tradisionalnya, pengantin mengenakan pakaian adat dan mendatangi rumah warga satu per satu. Setiap keluarga menyajikan makanan, minuman, buah-buahan, atau hasil kebun sebagai bentuk keramahan.
Jumlah rumah yang dikunjungi rata-rata dapat mencapai 50 rumah dalam satu desa. Kegiatan biasanya dilakukan selama dua hari, dimulai setelah akad nikah dan dilanjutkan seusai resepsi pada hari berikutnya.
Mantau Bunting bukan hanya acara mencicipi hidangan. Tradisi ini menjadi ruang memperkenalkan pasangan pengantin kepada keluarga dan masyarakat sekaligus mempererat hubungan sosial.
Persiapannya juga melibatkan banyak warga. Masyarakat bermusyawarah, membentuk panitia, membagi tugas, membangun panggung, hingga memasak bersama. Bantuan yang diberikan warga biasanya dicatat sebagai bagian dari sistem timbal balik. Ketika pemberi bantuan mengadakan hajatan, keluarga yang pernah dibantu memiliki tanggung jawab sosial untuk membalasnya.
Dengan demikian, Mantau Bunting menyimpan nilai gotong royong, kekeluargaan, keramahtamahan, dan tanggung jawab bersama.
Dianggap Melelahkan dan Tidak Praktis
Penelitian menemukan bahwa sebagian generasi muda mulai memandang prosesi tersebut sebagai kegiatan yang rumit, memakan waktu, dan membutuhkan biaya serta tenaga besar.
Kondisi rumah masyarakat yang umumnya berbentuk rumah panggung juga menjadi tantangan. Pengantin harus berulang kali menaiki tangga sambil mengenakan pakaian adat lengkap ketika mengunjungi puluhan rumah.
Pakaian adat kemudian mulai diganti dengan gamis atau kebaya modern yang dinilai lebih ringan dan memudahkan pergerakan. Durasi kegiatan yang sebelumnya berlangsung dua hari satu malam juga mulai dipersingkat menjadi satu hari.
Pernikahan yang hanya dilaksanakan secara administratif di Kantor Urusan Agama turut mempersempit ruang pelaksanaan tradisi. Ketika pernikahan dilakukan secara sederhana dan privat, rangkaian musyawarah, gotong royong, serta kunjungan kepada masyarakat kerap dihilangkan.
Peneliti juga menyoroti melemahnya peran keluarga dan lembaga adat dalam mewariskan pengetahuan budaya. Interaksi langsung antargenerasi berkurang, sementara generasi muda lebih banyak terpapar budaya populer dan konten digital.
Akibatnya, sebagian anak muda mengenal Mantau Bunting hanya sebagai rangkaian acara yang panjang tanpa memahami nilai sosial di baliknya.
Beradaptasi agar Tidak Hilang
Modernisasi tidak harus berakhir dengan hilangnya Mantau Bunting. Penyederhanaan pakaian, pengurangan jumlah rumah yang dikunjungi, atau pemangkasan durasi dapat menjadi jalan tengah agar tradisi tetap dijalankan.
Namun, perubahan tersebut perlu menjaga unsur terpentingnya, yakni penerimaan terhadap pengantin, keterlibatan masyarakat, gotong royong, dan hubungan timbal balik antarwarga.
Dokumentasi digital juga dapat digunakan untuk mengenalkan kembali tradisi kepada generasi muda. Tantangannya, promosi melalui media sosial jangan sampai hanya menjadikan Mantau Bunting sebagai tontonan visual dan menghilangkan makna sosialnya.
Penelitian ini memperlihatkan bahwa tradisi tidak selalu harus dipertahankan dalam bentuk yang sepenuhnya sama. Mantau Bunting dapat beradaptasi dengan kehidupan modern, selama perubahan itu tidak menghapus nilai kebersamaan yang menjadi inti tradisi tersebut.
