Dailykaltim.co – Ponsel pintar bukan lagi sekadar alat komunikasi bagi Generasi Z. Dari layar berukuran beberapa inci itu, mereka mencari rekomendasi tempat makan, membandingkan produk, membaca ulasan, mengikuti tren fesyen, hingga memutuskan merek yang layak mendapat dukungan.
Kebiasaan tersebut membuat Gen Z tidak hanya menjadi target pasar. Mereka ikut menentukan produk yang populer, tempat yang ramai dikunjungi, serta nilai yang perlu ditampilkan sebuah merek agar tetap relevan.
Kajian berjudul Peran Gen Z dalam Mengubah Tren Konsumsi dan Gaya Hidup di Indonesia menyebut generasi yang lahir pada pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an itu telah membawa perubahan dalam cara masyarakat berbelanja dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Artikel ilmiah yang ditulis Alifiana, Sujarwo, dan Desy Safitri dari Universitas Negeri Jakarta tersebut dipublikasikan dalam Triwikrama: Jurnal Multidisiplin Ilmu Sosial Volume 10 Nomor 1 Tahun 2025. Penelitian dilakukan melalui studi literatur dengan menelaah berbagai jurnal nasional dan internasional dari Google Scholar.
Hasil kajian itu memperlihatkan bahwa keputusan konsumsi Gen Z tidak semata-mata ditentukan oleh harga dan kualitas. Identitas, pengalaman, citra sosial, serta nilai yang dibawa sebuah produk turut menjadi pertimbangan.
Sebelum Membeli, Gen Z Mencari Validasi
Kehadiran TikTok, Instagram, dan YouTube telah mengubah perjalanan konsumen sebelum membeli produk. Iklan konvensional bukan lagi satu-satunya sumber informasi. Ulasan pengguna, video singkat, komentar warganet, dan rekomendasi kreator konten justru sering menjadi bahan pertimbangan utama.
Gen Z dinilai lebih tertarik pada konten yang terasa autentik dan personal. Mereka ingin melihat bagaimana suatu produk digunakan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya ditampilkan melalui materi promosi yang telah dipoles.
Sebelum memutuskan membeli, mereka dapat membandingkan harga di beberapa lokapasar, membaca ulasan pelanggan, mencari video pengujian produk, hingga memeriksa rekam jejak mereknya. Satu pengalaman buruk yang dibagikan konsumen bahkan bisa memengaruhi persepsi terhadap sebuah produk.
Kondisi ini membuat hubungan antara merek dan konsumen menjadi lebih terbuka. Perusahaan tidak cukup hanya menyampaikan promosi satu arah. Mereka dituntut cepat menjawab pertanyaan, merespons keluhan, dan membangun komunikasi yang terasa dekat.
Namun, kepercayaan terhadap influencer juga menyimpan persoalan tersendiri. Konten yang terlihat sebagai pengalaman pribadi belum tentu terbebas dari kepentingan promosi. Karena itu, label iklan, keterbukaan kerja sama komersial, dan kemampuan konsumen memeriksa informasi tetap penting.
Penampilan dan Hiburan Tetap Mendapat Tempat
Kajian tersebut menemukan bahwa Gen Z cenderung mengalokasikan pengeluaran untuk produk yang berkaitan dengan penampilan dan hiburan, seperti fesyen, kecantikan, serta teknologi.
Pilihan itu tidak selalu dapat dibaca sebagai perilaku konsumtif semata. Bagi sebagian Gen Z, penampilan merupakan bagian dari cara membangun identitas, sementara teknologi menjadi perangkat untuk belajar, bekerja, berkomunikasi, dan menghasilkan pendapatan.
Tidak sedikit anak muda yang menjalani pekerjaan sampingan sebagai pekerja lepas, pembuat konten, reseller, atau pengelola toko daring. Pekerjaan tersebut bukan hanya digunakan untuk menambah pendapatan, tetapi juga menjadi ruang aktualisasi diri.
Di sisi lain, keterbatasan anggaran turut mendorong penggunaan layanan buy now, pay later atau beli sekarang bayar nanti. Skema tersebut memungkinkan konsumen mendapatkan barang lebih cepat dengan pembayaran bertahap.
Kemudahan itu tetap perlu disikapi hati-hati. Penelitian tersebut tidak menyajikan data mengenai tingkat penggunaan, beban utang, ataupun kemampuan pembayaran Gen Z. Karena itu, popularitas layanan paylater tidak serta-merta menunjukkan kondisi finansial yang sehat. Tanpa perencanaan, cicilan kecil dari berbagai transaksi dapat berubah menjadi beban yang besar.
Lebih Memilih Pengalaman daripada Barang
Salah satu pergeseran paling terlihat dalam gaya hidup Gen Z adalah kecenderungan mengutamakan pengalaman dibandingkan kepemilikan barang.
Alih-alih hanya membeli benda, mereka memilih mengeluarkan uang untuk berlibur, menonton konser, mengikuti kegiatan komunitas, atau mengunjungi kafe dengan konsep tertentu. Pengalaman tersebut dianggap memberikan nilai emosional, memperluas relasi sosial, sekaligus dapat dibagikan melalui media sosial.
Fenomena ini ikut mendorong tumbuhnya kafe tematik, acara sementara atau pop-up event, konser, serta destinasi wisata yang menawarkan pengalaman visual. Tempat yang menarik tidak hanya dinilai dari produk atau pelayanannya, tetapi juga dari cerita dan suasana yang dapat dibawa pulang pengunjung.
Media sosial kemudian memperpanjang usia sebuah pengalaman. Perjalanan atau kegiatan yang berlangsung beberapa jam dapat tersimpan dalam foto, video, dan unggahan yang terus dilihat orang lain.
Meski demikian, keinginan membagikan pengalaman juga dapat memunculkan tekanan sosial. Aktivitas yang semula dilakukan untuk bersenang-senang bisa berubah menjadi kebutuhan untuk selalu terlihat mengikuti tren. Di titik ini, batas antara menikmati pengalaman dan mencari pengakuan menjadi semakin tipis.
Mengaku Peduli Lingkungan, Bagaimana Praktiknya?
Gen Z juga kerap dikaitkan dengan kepedulian terhadap isu lingkungan dan sosial. Kajian tersebut menyebut mereka lebih tertarik pada produk ramah lingkungan, proses produksi yang etis, dukungan terhadap usaha lokal, serta merek yang terbuka mengenai nilai yang dijalankan.
Sebagian anak muda mulai memilih produk daur ulang, mengurangi pembelian berlebihan, mendukung UMKM, dan menerapkan gaya hidup minimalis. Inklusivitas, keberagaman, serta sikap perusahaan terhadap isu sosial juga dapat memengaruhi keputusan pembelian.
Preferensi itu memaksa pelaku usaha menyesuaikan strategi. Klaim ramah lingkungan tidak lagi cukup disampaikan melalui slogan. Konsumen muda dapat menuntut penjelasan mengenai bahan baku, kemasan, proses produksi, hingga dampak sosial sebuah produk.
Tetapi terdapat jarak yang perlu diperiksa antara pernyataan dan perilaku. Kepedulian terhadap lingkungan belum tentu selalu berujung pada keputusan pembelian yang berkelanjutan, terutama ketika harga, akses, dan tren bergerak ke arah berbeda. Kajian ini juga tidak melakukan survei langsung untuk mengukur seberapa konsisten nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Konsumen Sekaligus Pencipta Tren
Gen Z tumbuh di tengah arus informasi yang cepat. Posisi mereka sebagai pengguna aktif media sosial membuat batas antara konsumen, pengulas, dan pemasar semakin kabur.
Seseorang dapat membeli produk, mengulasnya, kemudian memengaruhi keputusan pembelian orang lain dalam waktu singkat. Produk dari usaha kecil pun bisa mendadak dikenal luas setelah masuk ke halaman rekomendasi media sosial.
Itulah sebabnya Gen Z tidak lagi tepat dipandang hanya sebagai penerima tren. Mereka turut menciptakan, menyebarkan, sekaligus menghentikan tren.
Bagi pelaku bisnis, perubahan tersebut menuntut lebih dari sekadar mengikuti bahasa anak muda. Produk tetap harus berkualitas, komunikasi harus jujur, dan nilai yang dikampanyekan perlu dibuktikan. Sebab, di tengah banyaknya pilihan, satu hal yang paling mudah hilang adalah kepercayaan konsumen.
[PRD]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.
