Dailykaltim.co – Dua orang dapat memiliki usia yang sama, namun kondisi kesehatannya sangat berbeda. Ada yang tetap aktif dan jarang sakit di usia 70 tahun, sementara yang lain lebih rentan mengalami infeksi, mudah lelah, atau sering menjalani perawatan medis. Perbedaan tersebut tidak hanya dipengaruhi usia kronologis, tetapi juga kondisi sistem kekebalan tubuh atau yang kerap disebut sebagai “usia imun”.
Dalam dunia kesehatan, sistem imun tidak hanya berfungsi melawan penyakit, tetapi juga menyimpan jejak berbagai paparan yang dialami seseorang sepanjang hidup. Mulai dari infeksi, vaksinasi, pola makan, kualitas tidur, tingkat stres, hingga paparan polusi lingkungan.
Konsep tersebut dikenal sebagai immunobiography atau biografi sistem imun, yakni kumpulan pengalaman biologis yang membentuk cara kerja sistem kekebalan tubuh dari waktu ke waktu. Dari riwayat inilah risiko berbagai penyakit, seperti infeksi berat, gangguan autoimun, kanker, hingga kerapuhan pada usia lanjut dapat berkembang.
Para peneliti juga mengenal istilah inflammaging, yaitu kondisi peradangan tingkat rendah yang berlangsung terus-menerus seiring bertambahnya usia. Meski tidak menimbulkan gejala mencolok seperti demam atau infeksi akut, kondisi ini diyakini berkontribusi terhadap percepatan penuaan organ, gangguan pembuluh darah, penurunan fungsi otak, serta melemahnya sistem imun.
Namun, proses tersebut tidak berlangsung sama pada setiap orang. Pada sebagian individu, penurunan fungsi terjadi pada sel imun tertentu, sementara pada yang lain dipengaruhi kondisi mikrobioma usus, stres kronis, atau kurang tidur dalam jangka panjang.
Selain faktor biologis, lingkungan modern juga dinilai berperan terhadap kesehatan sistem imun. Paparan polusi udara, mikroplastik, bahan kimia tertentu, makanan ultra-proses, hingga pola hidup yang minim aktivitas fisik disebut menjadi bagian dari faktor yang dapat memengaruhi kondisi kesehatan jangka panjang.
Dalam sistem pertahanan tubuh, sel T dan sel NK (natural killer) memiliki peran penting. Sel T membantu tubuh mengenali ancaman yang pernah ditemui sebelumnya, sedangkan sel NK berfungsi mendeteksi dan menghancurkan sel yang terinfeksi maupun sel abnormal sejak tahap awal.
Seiring bertambahnya usia, kedua komponen tersebut dapat mengalami penurunan fungsi yang dikenal sebagai immunosenescence. Kondisi ini membuat kemampuan tubuh dalam merespons ancaman kesehatan menjadi berkurang.
Di sisi lain, para peneliti juga menaruh perhatian pada NAD⁺, molekul yang berperan penting dalam produksi energi sel, perbaikan DNA, dan fungsi sistem imun. Kadar NAD⁺ diketahui cenderung menurun seiring pertambahan usia serta berbagai faktor kesehatan seperti obesitas dan hipertensi.
Penurunan kadar NAD⁺ kemudian memunculkan perhatian terhadap NMN (nicotinamide mononucleotide), senyawa yang merupakan prekursor atau bahan baku pembentukan NAD⁺. Dalam berbagai penelitian laboratorium dan hewan, NMN menunjukkan potensi dalam mendukung metabolisme, kesehatan pembuluh darah, fungsi mikrobioma usus, hingga respons antioksidan tubuh.
Meski demikian, manfaat NMN pada manusia masih terus diteliti. Sejumlah studi awal menunjukkan senyawa tersebut relatif aman digunakan dalam jangka pendek dan dapat meningkatkan kadar NAD⁺ dalam darah. Namun, bukti ilmiah mengenai manfaat anti-penuaan yang kuat pada manusia masih terbatas.
Karena itu, para ahli mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh berbagai klaim yang menyebut NMN sebagai “pil awet muda”. Penggunaan suplemen tetap perlu mempertimbangkan kondisi kesehatan individu dan sebaiknya dilakukan berdasarkan rekomendasi tenaga kesehatan.
Perkembangan ilmu kesehatan saat ini juga mengarah pada pendekatan precision medicine atau kedokteran presisi, yakni metode yang mempertimbangkan karakteristik biologis setiap individu dalam menentukan strategi pencegahan maupun pengobatan.
Melalui pendekatan tersebut, penanganan kesehatan di masa depan diperkirakan tidak hanya berfokus pada penyakit yang muncul, tetapi juga pada pemetaan kondisi sistem imun, metabolisme, pola tidur, hingga faktor genetik seseorang.
Meski berbagai inovasi kesehatan terus berkembang, para ahli menegaskan bahwa fondasi utama menjaga sistem imun tetap berasal dari gaya hidup sehat. Aktivitas fisik teratur, konsumsi makanan bergizi seimbang, tidur yang cukup, pengelolaan stres, tidak merokok, serta mengikuti vaksinasi sesuai anjuran tetap menjadi langkah paling penting untuk menjaga kesehatan jangka panjang.
Artikel ini merajuk pada pemaparan dokter dan peneliti kesehatan Dito Anurogo mengenai hubungan antara sistem imun, proses penuaan, serta perkembangan pendekatan kesehatan presisi dalam menjaga kualitas hidup masyarakat.
[UHD]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.
