Dailykaltim.co, Penajam – Program budidaya tematik ikan nila dan lele yang diusulkan Dinas Perikanan (Diskan) Penajam Paser Utara (PPU) tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi ikan air tawar. Hasil budidaya juga dibidik untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal, mendukung program MBG, hingga menyuplai kebutuhan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan Lingkungan Diskan PPU, Musakkar Mulyadi, mengatakan skema produksi dalam program tersebut cukup potensial apabila dikelola dengan baik. Dalam satu paket program, informasi awal menyebut terdapat 24 kolam terpal untuk satu desa.
“Dia satu paketnya itu 24 kolam terpal satu desa tadi. Kemarin informasi sebelumnya sih yang sistem Bioflock itu diameter 3. Nah, ini kita belum tahu apakah sama atau tidak, masih sama atau bisa melebihi dari 3 tadi,” ujar Musakkar.
Menurutnya, ukuran kolam masih menunggu kepastian juknis terbaru. Namun, Diskan PPU memperkirakan skema kolam yang digunakan tidak jauh berbeda dari informasi awal.
“Kalau prediksi kami sih pasti sama, insyaallah sama. Sama, ya. Kalau untuk lebih besarnya kayaknya tidak,” katanya.
Musakkar menjelaskan, dengan asumsi satu kolam diisi 1.000 ekor ikan dan tingkat kelangsungan hidup atau survival rate mencapai 80 persen, maka potensi produksi dapat dihitung dari jumlah ikan yang bertahan hingga panen.
“Kan kalau satu unit itu penebarannya 1.000 ekor per kolam, berat panennya kita anggaplah naik 5 ekor per kilo. Kemudian kita SR-nya kita anggaplah 80 persen, berarti 800 ekor dibagi 5 dikali 24 kolam. Itulah hasilnya,” jelasnya.
Berdasarkan gambaran tersebut, satu kolam dapat menghasilkan sekitar 160 kilogram ikan jika 800 ekor bertahan hidup dan ukuran panen berada pada kisaran lima ekor per kilogram. Dengan 24 kolam, produksi dapat mencapai sekitar 3.840 kilogram dalam satu siklus panen.
Namun, pengelolaan panen tidak harus dilakukan serentak dalam jangka panjang. Setelah siklus awal, pola panen dapat diatur bertahap agar produksi ikan tersedia lebih stabil.
“Nah, sebenarnya ini kan di awal tuh serentak tuh. Untuk berikutnya nanti kan bisa kita atur tuh pola panen nanti bisa per bulan karena 24 unit,” ujar Musakkar.
Pola panen bertahap dinilai penting agar pasokan ikan tidak menumpuk pada satu waktu. Dengan pengaturan tersebut, desa atau pengelola dapat menjaga ketersediaan ikan untuk pasar dan mengurangi risiko harga turun akibat produksi melimpah secara bersamaan.
Musakkar menyebut, sasaran pasar program ini cukup jelas. Dari hasil sosialisasi yang diikuti Diskan PPU, produksi ikan nila dan lele diarahkan untuk mendukung kebutuhan MBG, IKN, dan pasar lokal.
“Itu nanti tinggal dari KDMP dan desa yang bagaimana anggotanya melaksanakan pengelolaannya. Ini kan targetnya kemarin dari hasil sosialisasi yang kita ikuti itu pasarnya MBG, sama kita support ke IKN, pasar lokal aja,” katanya.
Menurutnya, peluang pasar tersebut membuat budidaya tematik nila dan lele memiliki prospek ekonomi. PPU sebagai daerah penyangga IKN membutuhkan penguatan produksi pangan lokal agar tidak hanya bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Selain pasar ikan segar, Diskan PPU juga mendorong adanya pengembangan produk olahan. Jika produksi melimpah, koperasi desa dapat mengambil peran untuk mengolah ikan menjadi produk bernilai tambah.
“Rencana ke depan jika produksi melimpah, kita harapkan juga dari Kopdes-nya sini punya alternatif lain usahanya terkait produk hasil olahan ikan budidaya ini,” ujar Musakkar.
Produk olahan dapat menjadi alternatif ketika hasil panen melebihi kebutuhan pasar segar. Selain memperpanjang masa simpan, olahan ikan juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat desa.
“Dia kan bisa melakukan inovasi produk hasil olahan, mau dibuat abon kah. Itu sih harapan kami supaya program dari pusat itu berjalan di daerah,” tutupnya.
Arah pasar ke MBG dan produk olahan juga sudah terlihat dalam implementasi program pusat di sejumlah daerah. KKP mencatat, hasil panen budidaya tematik dapat diarahkan untuk mendukung kebutuhan MBG, sementara kelebihan produksi bisa dikembangkan menjadi produk turunan agar memunculkan ekonomi sirkular di desa.Â
[PRD | ADV DISKOMINFO PPU]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.
