Dailykaltim.co – Kebiasaan begadang kerap dianggap sebagai cara menambah waktu produktif. Namun secara medis, pola tidur yang terus-menerus dipangkas dapat mengganggu ritme biologis tubuh dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, mulai dari penurunan fungsi kognitif hingga penyakit metabolik.
Di dalam otak terdapat pusat pengatur ritme sirkadian yang disebut suprachiasmatic nucleus (SCN). Struktur ini mengoordinasikan siklus 24 jam tubuh, termasuk waktu tidur, pelepasan hormon, suhu tubuh, hingga proses perbaikan sel. Ketika seseorang sering tidur larut malam, ritme tersebut menjadi tidak sinkron dengan siklus terang-gelap alami.
Fungsi Kognitif dan Emosi Terganggu
Kurang tidur berdampak langsung pada korteks prefrontal, bagian otak yang mengatur konsentrasi, perencanaan, serta kontrol emosi. Penurunan aktivitas di area ini membuat individu lebih sulit fokus, lebih impulsif, dan cenderung mengambil keputusan kurang matang.
Pada saat yang sama, amigdala—pusat respons emosional—menjadi lebih reaktif. Kondisi ini menjelaskan mengapa orang yang kurang tidur lebih mudah tersinggung atau bereaksi berlebihan terhadap situasi sehari-hari.
Proses konsolidasi memori juga terganggu. Fase tidur gelombang lambat dan REM berperan penting dalam memperkuat ingatan dan menyaring informasi. Jika durasi tidur berkurang, kemampuan menyerap dan mengolah informasi ikut menurun.
Pembersihan Otak Tidak Optimal
Saat tidur nyenyak, otak mengaktifkan sistem glimfatik yang berfungsi membersihkan limbah metabolik, termasuk protein beta-amiloid yang dikaitkan dengan penyakit Alzheimer. Jika waktu tidur dipersingkat secara konsisten, proses pembersihan ini tidak berjalan optimal sehingga berpotensi menimbulkan akumulasi dalam jangka panjang.
Perubahan Gen, Hormon, dan Sistem Imun
Studi menunjukkan kurang tidur dapat memengaruhi aktivitas ratusan gen yang terkait metabolisme, peradangan, dan sistem imun. Dalam penelitian hewan, kurang tidur kronis dikaitkan dengan penurunan BDNF, protein yang berperan dalam plastisitas dan daya tahan neuron.
Gangguan tidur juga mengubah keseimbangan hormon lapar dan kenyang. Leptin yang memberi sinyal kenyang cenderung menurun, sementara ghrelin yang memicu rasa lapar meningkat. Kondisi ini meningkatkan keinginan mengonsumsi makanan tinggi kalori.
Selain itu, kadar kortisol sebagai hormon stres dapat meningkat. Kortisol yang tinggi dalam jangka panjang berhubungan dengan peningkatan tekanan darah, gangguan sensitivitas insulin, serta risiko gangguan metabolik.
Risiko Diabetes dan Penyakit Jantung
Pembatasan tidur beberapa malam saja dapat menurunkan sensitivitas insulin. Jika berlangsung lama, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi resistensi insulin dan diabetes tipe 2.
Pada sistem kardiovaskular, tidur malam normal membantu menurunkan tekanan darah secara alami. Begadang membuat penurunan tersebut tidak optimal, sehingga tekanan darah tetap relatif tinggi dan meningkatkan risiko hipertensi, penyakit jantung, serta stroke.
Microsleep dan Ancaman Keselamatan
Kurang tidur juga meningkatkan risiko microsleep, yakni episode tidur singkat beberapa detik tanpa disadari. Dalam situasi seperti mengemudi atau mengoperasikan mesin, kondisi ini dapat meningkatkan risiko kecelakaan akibat lambatnya waktu reaksi dan menurunnya kewaspadaan.
Paparan Layar Perparah Gangguan Ritme
Paparan cahaya biru dari gawai pada malam hari menekan produksi melatonin, hormon yang membantu tubuh memasuki fase tidur. Penekanan melatonin berulang dapat mengganggu kualitas tidur dan proses pemulihan sel.
Tidur Konsisten Lebih Penting dari Balas Dendam Akhir Pekan
Tidur lebih lama di akhir pekan tidak sepenuhnya menggantikan kekurangan tidur pada hari kerja. Tubuh membutuhkan konsistensi ritme, bukan sekadar durasi panjang sesekali. Perubahan jam tidur drastis justru dapat menimbulkan gangguan ritme serupa jet lag.
Dokter Dito Anurogo MSc PhD, peneliti dan dosen FKIK Unismuh Makassar, menyebut tidur sebagai fase pemulihan aktif tubuh. Menurut dia, menjaga konsistensi waktu tidur merupakan langkah preventif yang sederhana tetapi berdampak luas terhadap kesehatan jangka panjang.
Ia menegaskan bahwa begadang sesekali tidak serta-merta berbahaya, namun kebiasaan tidur larut malam yang berulang dapat menjadi faktor risiko berbagai gangguan kesehatan. Di tengah budaya produktivitas tanpa henti, disiplin menjaga waktu tidur menjadi bagian penting dari strategi hidup sehat.
[UHD]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.
