Dailykaltim.co, Kutim – Distribusi minyak goreng di Kabupaten Kutai Timur mulai mengalami hambatan dalam beberapa pekan terakhir. Sejumlah merek premium dilaporkan sulit ditemukan di tingkat distributor, mendorong Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah agen dan distributor di Sangatta, Rabu (13/5/2026).
Sidak dilakukan untuk memantau ketersediaan bahan pokok sekaligus mengawasi pergerakan harga sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan, terutama minyak goreng dan telur ayam ras.
Tim monitoring mendatangi beberapa distributor besar di Sangatta, seperti Top 88, Merdeka, dan Pulau Mas. Dari hasil pengecekan, stok minyak goreng di sejumlah lokasi mulai menipis, terutama untuk merek premium seperti Bimoli.
Di distributor Top 88, minyak goreng yang tersisa hanya beberapa merek dengan kemasan kecil seperti Saro dan Rose Brand. Pemilik toko menyebut pasokan baru belum masuk selama hampir satu bulan meski pemesanan telah dilakukan sejak menjelang Idulfitri.
Kondisi serupa juga terjadi di Toko Merdeka. Stok minyak goreng masih tersedia, namun dalam jumlah terbatas. Beberapa merek yang masih tersisa antara lain Sabrina, Sip, Jar, Heimark, dan Bimoli.
“Begitu barang datang langsung habis diborong pembeli,” ujar petugas distributor Pulau Mas.
Kepala Bidang Industri Disperindag Kutim, Achmad Donny Erviady, mengatakan pemerintah daerah turun langsung ke lapangan untuk memastikan kondisi pasokan di tingkat distributor sekaligus mengantisipasi kemungkinan penimbunan barang.
“Hari ini kami turun langsung mengecek agen dan distributor untuk memastikan stok minyak goreng dan kebutuhan pokok lainnya. Jadi kami ingin tahu langsung apa kendala sebenarnya di lapangan,” kata Donny usai sidak.
Menurutnya, hambatan distribusi dipengaruhi meningkatnya biaya operasional dan ongkos angkut barang dari luar daerah. Kondisi tersebut mulai berdampak pada sejumlah komoditas lain seperti mi instan dan telur ayam ras.
Harga telur ayam di Kutim hingga kini masih relatif tinggi karena produksi lokal belum mampu memenuhi kebutuhan pasar. Data Disperindag menunjukkan produksi telur dari peternak lokal baru sekitar 147 ton per bulan, sementara kebutuhan masyarakat mencapai sekitar 470 ton per bulan.
Ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah membuat distribusi pangan di Kutim cukup rentan terhadap gangguan logistik dan kenaikan biaya angkut.
“Distributor mengeluhkan ongkos angkut yang naik cukup tinggi. Jadi pasokan barang masuk lebih lambat dari biasanya. Tapi masyarakat tidak perlu panik karena stok sebenarnya masih ada, hanya beberapa merek tertentu yang terbatas,” ujar Donny.
Untuk menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kutim menyiapkan sejumlah langkah intervensi seperti Gerakan Pasar Murah, operasi pasar rutin, hingga optimalisasi Warung Tekan Inflasi (WARTEK).
Selain itu, pemerintah daerah juga mulai mendorong penguatan produksi pangan lokal, termasuk pengembangan peternakan ayam petelur dan hilirisasi kelapa sawit untuk mendukung pasokan minyak goreng di daerah.
[UHD]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.
