Dailykaltim.co, Penajam – Desa Gunung Makmur di Kecamatan Babulu dinilai menjadi salah satu wilayah yang perlu didorong lebih cepat dalam pembentukan Forum Anak. Dorongan itu muncul karena wilayah tersebut disebut memiliki catatan kasus kekerasan terhadap anak yang cukup menonjol dibandingkan desa lain di Kecamatan Babulu.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana atau DP3AP2KB Penajam Paser Utara (PPU), Jansje Grace Makisurat, menyampaikan hal itu saat kegiatan Sosialisasi Peraturan Menteri PPPA Nomor 3 Tahun 2025 tentang Partisipasi Anak melalui Forum Anak di Desa/Kelurahan.Â
Kegiatan tersebut digelar sebagai bagian dari advokasi dan sosialisasi penguatan lembaga penyedia layanan bagi anak yang memerlukan perlindungan khusus tingkat kabupaten/kota.Â
Melalui sosialisasi ini, DP3AP2KB PPU ingin membangun sinergi antara anak, pendamping, dan pemerintah desa dalam mendukung penyampaian aspirasi anak serta pemenuhan hak dan perlindungan anak di desa maupun kelurahan.Â
Jansje mengatakan, pembentukan Forum Anak di desa tidak bisa dilepaskan dari kesiapan sumber daya anak di masing-masing wilayah. Namun, desa dengan kebutuhan perlindungan lebih mendesak juga perlu mendapat perhatian lebih cepat.
“Tergantung ketersediaan sumber anak-anak di desa itu. Kalau dari beberapa kasus kekerasan anak, untuk Kecamatan Babulu itu ternyata Desa Gunung Makmur yang paling banyak,” ujar Jansje.
Menurutnya, data kasus kekerasan anak dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan wilayah prioritas pembentukan Forum Anak. Jika suatu desa memiliki kasus yang lebih menonjol, maka keberadaan Forum Anak dapat membantu memperkuat ruang suara anak sekaligus menjadi bagian dari upaya deteksi dini persoalan di lingkungan mereka.
“Harapannya, mungkin kita harus dorong di sana dulu yang kuantitas kasusnya cukup banyak. Kan dominan sekali Kecamatan Babulu untuk kasus kekerasan terhadap anak,” katanya.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa Forum Anak tidak hanya diposisikan sebagai organisasi partisipasi, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem perlindungan anak. Di desa, anak-anak dapat menyampaikan persoalan yang mereka alami atau lihat, termasuk hal-hal yang mungkin tidak sampai kepada orang dewasa.
Dalam konteks Babulu, pembentukan Forum Anak menjadi penting karena kegiatan sosialisasi juga melibatkan unsur desa secara luas. Berdasarkan daftar undangan, kegiatan ini mengikutsertakan Camat Babulu, Forum Anak Kecamatan Babulu, BPD, kepala desa, pembina Forum Anak desa, serta Forum Anak desa dari sejumlah desa, termasuk Gunung Makmur.Â
Jansje juga menyoroti kondisi fasilitas ramah anak di Kecamatan Babulu yang masih perlu diperkuat. Menurutnya, minimnya ruang kegiatan positif bagi anak dapat membuat anak lebih banyak menghabiskan waktu di luar lingkungan yang terarah.
“Fasilitas ramah anak di Babulu juga masih kurang dan kalau kita lihat di sekolahnya, ekskulnya juga kurang. Jadi anak-anak banyak waktu bermain di luar wilayahnya,” jelasnya.
Kondisi itu menjadi catatan penting. Ketika fasilitas ramah anak terbatas dan kegiatan sekolah tidak cukup menampung minat anak, ruang bermain dan interaksi anak bisa berpindah ke tempat yang kurang terawasi. Situasi seperti ini berpotensi meningkatkan kerentanan anak terhadap lingkungan yang tidak aman.
Karena itu, penguatan Forum Anak perlu berjalan bersama dengan penyediaan ruang kegiatan yang lebih positif. Sekolah, desa, dan pemerintah daerah perlu melihat kembali apakah anak-anak memiliki cukup ruang untuk berkegiatan, belajar, bermain, dan mengembangkan minatnya secara aman.
“Setidaknya di sekolah ada ekskul sehingga tidak berkeliaran dan melakukan aktivitas yang lebih positif,” ujar Jansje.
[PRD | ADV DP3AP2KB PPU]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.
