Dailykaltim.co, Penajam – Penghargaan Gender Champion Kalimantan Timur 2026 yang diraih tokoh asal Penajam Paser Utara (PPU) tidak hanya menunjukkan keberhasilan individu. Di balik penghargaan itu, ada kerja pemberdayaan yang tumbuh dari ruang-ruang dekat masyarakat, mulai dari kelompok perempuan hingga lingkungan pendidikan.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) PPU, dr. Jansje Grace Makisurat, MH, menilai kontribusi para penerima penghargaan terlihat dari dampak yang mereka bangun secara langsung.
Salah satunya datang dari Yuni Nurhayati melalui Batik Sekar Buen. Jansje menyebut, Yuni tidak hanya bergerak dalam pengembangan produk batik, tetapi juga melibatkan kelompok-kelompok perempuan dalam proses pemberdayaan.
“Seperti Bu Yuni Nurhayati dari Batik Sekar Buen, dia kan menggandeng kelompok-kelompok perempuan,” ujarnya.
Pelibatan kelompok perempuan tersebut menjadi salah satu unsur penting dalam penilaian Gender Champion. Sebab, pemberdayaan tidak hanya dilihat dari keberhasilan usaha atau karya yang dihasilkan, tetapi juga dari sejauh mana kegiatan itu membuka ruang bagi perempuan lain untuk ikut berkembang.
“Jadi para perempuan yang dia fasilitasi, sehingga unsur pemberdayaannya kuat sekali,” lanjut Jansje.
Melalui Batik Sekar Buen, peran perempuan tidak hanya ditempatkan sebagai pekerja pendukung. Mereka menjadi bagian dari proses kreatif, produksi, dan penguatan ekonomi berbasis komunitas. Dari titik inilah, unsur pemberdayaan menjadi lebih terlihat: ada ruang belajar, ruang bekerja, sekaligus ruang untuk membangun kemandirian.
Bagi DP3AP2KB PPU, model seperti ini penting karena menunjukkan bahwa pengarusutamaan gender bisa hadir dalam aktivitas ekonomi lokal. Perempuan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga ikut menggerakkan usaha, membangun jejaring, dan memberi dampak bagi lingkungan sekitarnya.
Selain Yuni, Jansje juga menyoroti kontribusi Yani di bidang pendidikan. Menurutnya, peran Yani menjadi penting karena menyentuh langsung kebutuhan anak-anak melalui kegiatan mengajar.
“Nah, kalau ibu Yani ini, dia memberikan sumbangsih di bidang pendidikan. Dia mengajar anak-anak. Apalagi kayaknya sekolah tempat dia mengajar itu kan sekolah swasta,” jelasnya.
Kiprah Yani menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak selalu berbentuk kegiatan ekonomi. Di sektor pendidikan, kontribusi seorang tokoh juga dapat berdampak luas, terutama ketika menyangkut akses belajar, pendampingan anak, dan penguatan kualitas sumber daya manusia sejak dini.
Dalam konteks Gender Champion, pendidikan menjadi ruang strategis untuk menanamkan nilai kesetaraan dan keberdayaan. Peran pengajar bukan hanya menyampaikan pelajaran, tetapi juga membentuk karakter, memberi contoh, dan membuka harapan bagi anak-anak yang dididik.
Dua sosok tersebut memperlihatkan bahwa kontribusi perempuan di PPU bergerak dalam bentuk yang beragam. Ada yang menguatkan ekonomi kreatif melalui batik dan kelompok perempuan. Ada pula yang memberi sumbangsih melalui pendidikan dan pengajaran anak-anak.
Capaian ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kerja-kerja pemberdayaan kerap tumbuh dari aktivitas sehari-hari yang konsisten. Tidak selalu bermula dari panggung besar, tetapi dari komitmen mengajak, mendampingi, dan memberi manfaat bagi orang lain.
Bagi DP3AP2KB PPU, keberadaan tokoh seperti Yuni Nurhayati dan Yani menjadi contoh bahwa potensi perempuan di daerah perlu terus diberi ruang. Apalagi, kontribusi mereka telah menunjukkan dampak yang dapat dirasakan langsung oleh kelompok masyarakat.
[RRI | ADV DP3AP2KB PPU]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.
