Dailykaltim.co – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) masih memantau potensi tsunami di sejumlah wilayah Indonesia setelah gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Pantai Selatan Mindanao, Filipina, Senin pagi, 8 Juni 2026. Sejumlah daerah di Kalimantan Timur, termasuk Kutai Timur, Kota Bontang, dan Berau, masuk dalam status waspada.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan gempa terjadi pada kedalaman 47 kilometer akibat aktivitas subduksi lempeng Laut Filipina. Berdasarkan hasil pemodelan, gempa tersebut berpotensi memicu tsunami di sejumlah wilayah Indonesia dengan tingkat ancaman yang berbeda.
Wilayah yang berstatus siaga meliputi Minahasa, Bolaang Mongondow, Kota Manado, Minahasa Utara, Minahasa Selatan, Buol, Kepulauan Sangihe, Gorontalo, Kepulauan Talaud, Toli-Toli, Kota Palu, Donggala, Kota Ternate, dan Kota Bitung.
Sementara itu, wilayah yang berstatus waspada mencakup Kota Tidore Kepulauan, Bulungan, Nunukan, Halmahera, Kota Tarakan, Halmahera Utara, Kutai Timur, Kota Bontang, dan Berau.
BMKG mengimbau masyarakat di daerah berstatus siaga segera menjauhi kawasan pantai dan menuju lokasi yang lebih tinggi serta aman. Adapun warga di wilayah berstatus waspada diminta tidak beraktivitas di sekitar pantai maupun muara sungai hingga ada informasi lanjutan dari BMKG.
“Hasil monitoring hingga pukul 07 WIB menunjukkan adanya dua aktivitas gempa susulan atau aftershock dengan magnitudo 6,7 dan 5,9,” ujar Kepala BMKG dalam konferensi pers.
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, mengatakan gelombang tsunami telah terdeteksi di tiga lokasi pengamatan, yakni Siau, Maluku Utara, dan Melonguane. Tinggi gelombang yang tercatat berkisar antara 9 hingga 18 sentimeter.
Meski relatif kecil, BMKG menyatakan pemantauan terus dilakukan karena gelombang yang terukur masih merupakan gelombang awal. Berdasarkan hasil pemodelan, sejumlah wilayah masih berpotensi mengalami tsunami dengan level siaga maupun waspada.
“Seluruh perkembangan akan terus dipantau dan diperbarui secara berkala kepada masyarakat,” tegasnya.
BMKG juga meminta masyarakat mengikuti informasi resmi yang disampaikan melalui kanal yang telah terverifikasi, seperti situs BMKG, InaTEWS, media sosial resmi BMKG, dan aplikasi InfoBMKG.
Dalam keterangannya, BMKG menyebut sistem peringatan dini tsunami berjalan sesuai prosedur. Peringatan dini pertama diterbitkan kurang dari tiga menit setelah gempa terjadi, sedangkan pembaruan kedua dirilis dalam waktu kurang dari delapan menit.
Saat ini BMKG terus memperbarui peringatan dini berdasarkan hasil observasi lapangan dan data dari berbagai stasiun pemantauan. Status peringatan akan dievaluasi secara berkala hingga kondisi dinyatakan aman. Masyarakat diminta tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
[UHD]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.
