Dailykaltim.co, Kutim – Kebutuhan konektivitas udara di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus menjadi perhatian seiring meningkatnya mobilitas masyarakat, aktivitas investasi, hingga pengembangan sektor pariwisata. Salah satu langkah yang tengah dikaji adalah pengembangan Bandara Tanjung Bara di Kecamatan Sangatta Utara untuk memperkuat akses transportasi udara di daerah tersebut.
Di wilayah dengan cakupan geografis yang luas seperti Kutim, konektivitas tidak hanya berkaitan dengan jarak tempuh, tetapi juga kemudahan akses dan keterhubungan antarwilayah. Faktor tersebut dinilai berpengaruh terhadap pelayanan publik, kegiatan ekonomi, dan arus investasi.
Meski demikian, pengembangan fasilitas penerbangan memerlukan proses panjang yang mencakup kajian teknis, pemenuhan regulasi, kesiapan infrastruktur, hingga dukungan pembiayaan. Karena itu, rencana penguatan konektivitas udara masih berada pada tahap perencanaan dan pengkajian.
Sekretaris Dinas Perhubungan Kutim, Masrianto Suriansyah, mengatakan pengembangan bandara tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat karena harus memenuhi berbagai persyaratan teknis dan administratif.
“Untuk pembangunan bandara, prosesnya memang tidak sederhana. Ada banyak persyaratan yang harus dipenuhi, termasuk dari sisi teknis dan anggaran. Karena itu, saat ini masih dalam proses perencanaan dan kajian,” ujar Masrianto, Rabu (22/7/2026).
Menurut dia, pengembangan konektivitas udara tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga mencakup studi kelayakan, aspek keselamatan penerbangan, penyesuaian tata ruang, serta kesiapan sarana pendukung lainnya.
Masrianto menjelaskan, apabila pada masa mendatang Bandara Tanjung Bara dikembangkan untuk melayani penerbangan yang lebih luas, maka sejumlah infrastruktur tambahan harus disiapkan sesuai standar operasional penerbangan.
“Kalau nantinya menjadi bandara komersial, tentu harus ada runway baru. Tidak boleh mengganggu runway perusahaan yang saat ini digunakan,” jelasnya.
Kebutuhan transportasi udara dinilai semakin penting seiring berkembangnya aktivitas ekonomi di Kutai Timur. Akses yang lebih cepat dan efisien dinilai dapat mendukung mobilitas masyarakat, memperlancar kegiatan pemerintahan, memperkuat investasi, hingga menunjang pengembangan sektor pariwisata.
Sebagai langkah awal, Pemkab Kutim bersama PT Kaltim Prima Coal (KPC) juga menjajaki pemanfaatan penerbangan secara terbatas untuk kebutuhan tertentu. Skema tersebut disebut bukan sebagai layanan penerbangan komersial reguler, melainkan bagian dari upaya awal memperkuat konektivitas udara sambil menunggu proses kajian dan pengembangan berjalan.
Pendekatan bertahap dipilih untuk memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai regulasi dan mempertimbangkan aspek keselamatan penerbangan, efektivitas operasional, serta keberlanjutan layanan di masa mendatang.
Bagi Kutai Timur yang terus berkembang sebagai kawasan investasi, keberadaan akses transportasi udara dinilai memiliki nilai strategis. Selain memperpendek waktu perjalanan dan meningkatkan keterhubungan antarwilayah, akses udara juga berpotensi mendukung pertumbuhan sektor perdagangan, pariwisata, dan berbagai layanan publik.
Meski rencana tersebut masih dalam tahap kajian, penguatan konektivitas udara menjadi salah satu upaya yang terus dipersiapkan untuk mendukung perkembangan daerah dalam jangka panjang.
“Tujuannya tentu untuk memperkuat konektivitas dan mendukung aktivitas masyarakat serta perkembangan investasi dan pariwisata di Kutai Timur. Namun, semuanya tetap harus melalui proses perencanaan dan kajian sesuai ketentuan yang berlaku,” pungkasnya.
Sejauh ini, pengembangan Bandara Tanjung Bara masih berada dalam koridor perencanaan dan evaluasi. Setiap tahapan akan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku, kesiapan teknis, serta hasil kajian bersama para pemangku kepentingan sebelum direalisasikan lebih lanjut.
[UHD]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.
