Oleh Nur Indah, mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam, Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda.
Panti Asuhan bukan hanya tempat tinggal sementara bagi anak-anak yang kehilangan orang tua atau dukungan keluarga, tetapi juga ruang pertumbuhan psikologis yang sangat menentukan masa depan mereka. Sayangnya, aspek kesehatan mental khususnya kemampuan untuk menerima diri sering kali menjadi bagian yang kurang diperhatikan dalam pola pengasuhan. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan memberikan materi tentang penerimaan diri kepada puluhan anak dan remaja di Panti Sosial Asuhan Anak Harapan Samarinda. Suasana belajar berlangsung hangat: anak-anak duduk melingkar, mencatat, berdiskusi, dan mendengarkan dengan antusias. Momen ini menunjukkan bahwa mereka sebenarnya sangat haus akan ilmu yang menguatkan jiwa mereka, bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik semata.
Dalam interaksi tersebut, ada satu kalimat yang paling sering muncul: “Saya merasa tidak seperti orang lain”. Kalimat sederhana yang menyimpan makna mendalam perasaan tidak cukup, minder, dan terasing dari lingkungan. Padahal, penerimaan diri adalah fondasi kesehatan mental. Anak yang mampu menerima dirinya akan lebih mudah berkembang, berani mencoba hal baru, tidak mudah terseret pergaulan negatif, dan lebih siap menghadapi tekanan hidup. Inilah bekal yang sangat penting bagi anak panti yang ke depan harus berdiri di atas kakinya sendiri. Panti sosial sering kali sibuk dengan kebutuhan primer makan, tempat tinggal, sekolah, dan disiplin kegiatan. Namun tanpa pendampingan emosional, anak-anak ini tumbuh dengan konflik batin yang tidak terselesaikan. Rasa rendah diri, kesepian, hingga kecemasan dapat menjadi bom waktu di masa dewasa.
Kita, masyarakat Samarinda, perlu memahami bahwa dukungan psikologis bukan kemewahan melainkan kebutuhan dasar. Pemerintah daerah, lembaga sosial, kampus, komunitas, hingga relawan bisa mengambil peran dengan membuka ruang edukasi kesehatan mental yang terstruktur, konsisten, dan ramah anak. Penyampaian materi penerimaan diri bukan hanya soal memberi motivasi. Ini tentang mengajarkan mereka untuk mengenali perasaan, berdamai dengan masa lalu, memahami bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh latar belakang, dan menyadari bahwa mereka memiliki masa depan yang bisa dibangun.
Anak-anak panti adalah bagian dari masa depan Kalimantan Timur. Mereka berhak tumbuh dengan rasa percaya diri, harga diri yang kuat, dan kesehatan mental yang kokoh. Mari, bersama-sama, menjadikan pemberdayaan psikologis sebagai prioritas. Karena sebelum mereka menjadi hebat, mereka harus terlebih dahulu menerima dirinya sendiri.
*) Tanggung jawab atas opini ini sepenuhnya ada pada penulis sebagaimana tercantum, dan tidak mencerminkan pandangan atau kebijakan redaksi DailyKaltim.co.
