Dailykaltim.co – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan percepatan pembukaan akses, konsolidasi pengungsi, dan distribusi logistik sebagai prioritas penanganan bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Penegasan tersebut disampaikan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers di Pusat Informasi dan Media Center Penanggulangan Bencana Aceh, Kamis, 11 Desember 2025.
Sejak Kamis pagi, operasi pencarian, pertolongan, dan verifikasi korban terus dilakukan di tiga provinsi terdampak. Dalam 24 jam terakhir, BNPB mencatat tambahan 21 jenazah—16 dari Aceh, 3 dari Sumatera Utara, dan 2 dari Sumatera Barat—meningkatkan total korban meninggal dari 969 menjadi 990 jiwa. Di sisi lain, proses identifikasi masih berlangsung, sementara data korban hilang turun dari 252 menjadi 222 orang.
Jumlah pengungsi juga mengalami perubahan. Dari total awal 894.501 jiwa, kini tercatat 884.889 jiwa yang tersebar di 2.186 titik pengungsian di 13 kabupaten/kota Aceh. Pemerintah mulai mengonsolidasikan pengungsi ke lokasi terpadu untuk meningkatkan layanan dasar. Per 11 Desember, sebanyak 16.164 pengungsi sudah dipusatkan di 115 titik, sementara sekitar 15.000 pengungsi mandiri akan dipindahkan ke lokasi komunal guna memastikan pelayanan kesehatan, pangan, sanitasi, dan perlindungan kelompok rentan berjalan optimal.
Untuk memperkuat layanan darurat, BNPB menambah dapur umum, fasilitas kesehatan, dukungan psikososial, sekolah lapangan, hingga sekolah darurat. Di Sumatera Barat, penggunaan rumah ibadah sebagai lokasi pengungsian membuat BNPB dan Kementerian Sosial mendirikan 62 dapur umum tambahan.
Posko Logistik Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) mencatat 498,7 ton bantuan masuk sejak 28 November. Dari jumlah tersebut, 351,4 ton telah disalurkan, sementara 147,3 ton menjadi bumper stock untuk distribusi ke daerah yang masih terisolasi. Distribusi logistik dilakukan melalui moda udara, darat, dan laut secara paralel: 244 sortie udara yang membawa ±65 ton bantuan ditambah 19 sortie tambahan, 42 truk dengan ±121,3 ton bantuan melalui jalur darat, serta 32 trip menggunakan 12 kapal untuk jalur laut.
“Saluran distribusi ini memastikan daerah yang terisolasi dan sulit dijangkau tetap mendapat suplai logistik, terutama pangan, selimut, tenda, obat-obatan, dan peralatan penunjang,” ujar Muhari.
Pembukaan akses darurat, terutama pemasangan jembatan Bailey, menjadi fokus utama dengan dukungan TNI–Polri dan Kementerian PUPR. Aceh menunjukkan perkembangan signifikan: Tepin Redep (Bireuen–Lhokseumawe) naik dari 53% ke 77%, Kepin Mane (Bireuen–Takengon/Aceh Tengah) dari 25% ke 85%, dan Kuta Blang dari di bawah 10% ke 17,5%. “BNPB menargetkan dua jembatan utama dapat dilalui kendaraan roda empat pada akhir pekan ini, sehingga mobilisasi bantuan dan evakuasi dapat berjalan lebih cepat,” lanjutnya.
Perkembangan serupa juga terlihat di Sumatera Barat, dengan peningkatan progres pemasangan jembatan darurat di sejumlah titik: Sikabel, Pasaman Barat dari 55% ke 70%; Bawah Kubang, Solok dari 50% ke 65%; Supayang, Solok dari 25% ke 50%; serta Padang–Mantuang, Padang Pariaman dari 10% ke 18%. Tim gabungan tetap bekerja 24 jam untuk percepatan.
Beberapa daerah mulai mengajukan pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga yang rumahnya hilang atau rusak berat. Sumatera Barat menjadi yang paling siap dengan usulan awal dari lima kabupaten/kota: Pesisir Selatan 38 unit; 50 Kota 288 unit; Tanah Datar 131 unit; Padang Pariaman 272 unit; dan Kota Padang 88 unit. Dua wilayah—Pesisir Selatan dan 50 Kota—telah merampungkan data by name by address dan menunggu SK Bupati sebagai dasar pelaksanaan pembangunan.
Sementara itu, Aceh masih berada dalam masa tanggap darurat dan memasuki fase perpanjangan pada 14–25 December 2025. Fokus fase kedua mencakup percepatan pencarian korban, pemenuhan energi dan logistik, pembukaan akses, pembangunan pengungsian terpadu, penyusunan rencana huntara, serta penataan fasilitas umum untuk relokasi jangka menengah.
Asisten Teritorial Kodam Iskandar Muda, Kolonel Inf Fransisco, menegaskan komitmen TNI dalam mendukung penanganan bencana.
“TNI juga mendukung percepatan pembangunan jembatan darurat agar mobilisasi bantuan dan evakuasi berjalan tanpa hambatan,” katanya.
BNPB menegaskan bahwa seluruh operasi tanggap darurat dilaksanakan bersama TNI–Polri, pemerintah daerah, dan kementerian/lembaga terkait, dengan fokus utama pada penyelamatan jiwa, pemulihan akses, distribusi bantuan tepat waktu, serta penyiapan hunian jangka menengah bagi warga terdampak.
[UHD]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.
