Dailykaltim.co, Bontang – Sebanyak 9.840 balita di Kota Bontang menjadi sasaran Operasi Timbang Serentak Tahun 2026 yang digelar pada 9–13 Juni. Kegiatan ini dilakukan untuk memperbarui data status gizi balita sekaligus menjadi dasar penyusunan intervensi penanganan stunting di daerah tersebut.
Pelaksanaan operasi timbang dibuka di Ruang Rapat DPMPTSP Kota Bontang, Selasa (9/6/2026), dan dihadiri unsur pemerintah daerah, tenaga kesehatan, serta para pemangku kepentingan terkait.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, menjelaskan operasi timbang dilaksanakan lebih awal sebelum Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2026. Langkah itu dilakukan agar pemerintah memiliki waktu yang cukup untuk menindaklanjuti temuan di lapangan.
“Operasi timbang yang dilakukan saat ini mendahului SSGI, harapannya ada waktu untuk intervensi menghadapi SSGI,” ujarnya.
Menurut Toetoek, kegiatan tersebut melibatkan 125 Posyandu aktif yang didukung 984 kader Posyandu. Dinas Kesehatan menargetkan tingkat kehadiran balita mencapai minimal 95 persen selama pelaksanaan kegiatan.
Seluruh hasil pengukuran, mulai dari berat badan, panjang badan, hingga status imunisasi, akan divalidasi melalui aplikasi Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM). Data tersebut selanjutnya digunakan untuk memetakan kondisi gizi balita dan menentukan langkah intervensi yang diperlukan.
Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mengatakan penurunan angka stunting masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah masih ditemukannya bayi yang lahir dalam kondisi stunting.
“Kenapa stunting tidak turun, karena ada ibu yang baru melahirkan yang anaknya lahir dengan stunting. Nah ini yang harus kita cegah,” tegas Neni.
Ia menilai penanganan stunting tidak cukup dilakukan melalui pemantauan balita semata, tetapi perlu dimulai sejak tahap pencegahan. Aspek seperti pemenuhan gizi ibu hamil, konsumsi tablet tambah darah bagi remaja putri, sanitasi lingkungan, hingga perilaku hidup bersih dan sehat menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian.
“Penanganan stunting harus dilakukan dari hulu hingga hilir. Tidak cukup hanya fokus pada balita, tetapi juga harus memperhatikan remaja putri, ibu hamil, sanitasi lingkungan, dan pola hidup sehat masyarakat,” ujarnya.
Neni juga meminta evaluasi berkala dilakukan agar program penurunan stunting berjalan efektif di seluruh wilayah.
“Seluruh kelurahan harus mampu menurunkan angka stunting hingga satu digit. Saya berharap evaluasi berkala dapat dilakukan agar setiap program berjalan efektif dan target penurunan stunting dapat tercapai,” tambahnya.
Operasi timbang tahun ini menjadi bagian dari upaya pemutakhiran data gizi balita di Kota Bontang. Hasil yang diperoleh diharapkan dapat membantu penyusunan program yang lebih tepat sasaran dalam mendukung peningkatan kesehatan anak dan percepatan penurunan stunting.
“Operasi Timbang bukan hanya kegiatan rutin, tetapi bagian penting dari upaya kita memastikan seluruh balita tumbuh sehat, terpantau status gizinya, dan mendapatkan intervensi yang tepat sejak dini. Target kita jelas, yaitu menuju Zero Stunting secara bertahap di Kota Bontang,” tegas Neni.
[UHD]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.
