Dailykaltim.co, Kutim – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kutai Timur (Kutim) memperkuat jaringan Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar) hingga tingkat desa dan rukun tetangga (RT) sebagai upaya mempercepat respons awal saat terjadi kebakaran. Langkah ini juga menjadi bagian dari peningkatan kesiapsiagaan menghadapi potensi risiko yang meningkat seiring musim kemarau dan fenomena El Nino.
Kondisi cuaca yang lebih panas dan kering membuat potensi kebakaran, baik di permukiman maupun kawasan hutan dan lahan, cenderung meningkat. Situasi ini mendorong perlunya keterlibatan masyarakat sebagai garda terdepan di lingkungan masing-masing.
Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan Damkarmat Kutim, Sugio, mengatakan Redkar menjadi elemen penting dalam mempercepat penanganan sebelum petugas tiba di lokasi.
“Sebagian besar wilayah di Kutim sudah memiliki Redkar, meskipun belum semuanya. Kami juga telah menyiapkan 11 pos pemadam yang tersebar di sembilan kecamatan, termasuk di Sangatta, Muara Bengkal, Muara Wahau, Kombeng, Sangkulirang, dan Kaliorang,” ujar Sugio, Selasa (05/05/2026).
Ia menjelaskan, pembentukan Redkar umumnya berasal dari inisiatif masyarakat di tingkat desa atau RT, yang kemudian dilegalkan melalui keputusan kepala desa sebelum didaftarkan ke Damkarmat untuk mendapatkan pelatihan.
“Relawan ini dibentuk oleh desa atau RT, kemudian disahkan melalui surat keputusan kepala desa. Setelah itu dilaporkan kepada kami untuk bisa ditindak lanjuti, dinataranya dengan memberikan pelatihan. Selain itu, salah satu syarat utama untuk mendapatkan bantuan adalah ketersediaan personel dan legalitas dari desa,” jelasnya.
Damkarmat menilai keberadaan Redkar sangat krusial, terutama di wilayah permukiman padat dengan dominasi rumah kayu. Jarak tempuh armada pemadam yang bisa mencapai sekitar 10 menit sering kali menjadi tantangan tersendiri dalam mencegah api meluas. Dalam kondisi tersebut, respons awal dari warga menjadi penentu.
“Redkar adalah garda terdepan di lingkungan masing-masing. Karena unit pemadam kebakaran paling cepat tiba di lokasi sekitar 10 menit. Dalam kondisi rumah kayu, waktu tersebut sudah cukup untuk melalap habis bangunan, terutama jika rumah berdempetan,” katanya.
Ke depan, Damkarmat berharap seluruh desa di Kutai Timur dapat memiliki Redkar yang aktif hingga tingkat RT. Selain memperkuat kesiapsiagaan, upaya ini juga diharapkan mampu menekan angka kejadian kebakaran sejak tahap awal.
Di sisi lain, masyarakat juga diminta lebih waspada terhadap sumber api di lingkungan sekitar, terutama saat musim kering. Pencegahan sederhana seperti tidak membakar lahan, tidak meninggalkan api tanpa pengawasan, serta segera melapor saat melihat tanda kebakaran menjadi langkah yang dianggap efektif mengurangi risiko.
“Kami berharap masyarakat lebih peduli. Karena jika kebakaran terjadi, dampaknya akan dirasakan langsung oleh masyarakat sendiri. Pencegahan dan kesiapsiagaan adalah tanggung jawab bersama,” tutupnya.
[UHD]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.
