Dailykaltim.co, Penajam – Ruang bagi perempuan dalam pemerintahan Penajam Paser Utara (PPU) dinilai masih perlu diperkuat. Meski isu kesetaraan gender telah masuk dalam arah pembangunan daerah, tantangan di lapangan disebut belum sepenuhnya selesai, terutama dalam memberi ruang gerak yang setara bagi perempuan untuk berperan.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) PPU, Jansje Grace Makisurat, mengatakan tantangan perempuan dalam pemerintahan tidak selalu muncul dalam bentuk penolakan terbuka. Sebagian justru terlihat dari ruang yang belum sepenuhnya diberikan kepada perempuan untuk tampil, bersuara, dan mengambil peran secara maksimal.
“Sebenarnya bahwa dari pemerintah pun kurang memberi ruang gerak terhadap kehadiran perempuan, padahal di misi Bupati ata kesetaraan gender,” ujar Jansje.
Pernyataan itu menjadi catatan penting dalam pelaksanaan pengarusutamaan gender di PPU. Sebab, kesetaraan tidak cukup hanya tercantum dalam dokumen visi, misi, atau program pembangunan. Lebih jauh, kesetaraan harus tampak dalam budaya kerja, pembagian peran, kesempatan berbicara, hingga pelibatan perempuan dalam proses pengambilan keputusan.
Jansje menilai, ketika pemerintah telah menempatkan kesetaraan gender sebagai bagian dari arah pembangunan, maka setiap perangkat daerah semestinya ikut menerjemahkannya dalam praktik kerja sehari-hari. Artinya, perempuan tidak hanya hadir sebagai bagian dari struktur organisasi, tetapi juga diberi kesempatan untuk memengaruhi kebijakan dan pelaksanaan program.
Di lingkungan pemerintahan, keberadaan perempuan memiliki peran penting. Banyak pegawai perempuan yang terlibat langsung dalam pelayanan publik, administrasi, perencanaan, kesehatan, pendidikan, perlindungan sosial, hingga program pemberdayaan masyarakat. Namun, ruang gerak mereka masih perlu terus diperluas agar kontribusi tersebut tidak dipandang sebagai pelengkap semata.
Bagi Jansje, isu ini menjadi relevan dalam momentum Hari Kartini. Peringatan tersebut tidak hanya menjadi ajang mengenang tokoh emansipasi perempuan, tetapi juga ruang untuk mengevaluasi apakah nilai kesetaraan telah benar-benar hadir dalam sistem pemerintahan.
Ia tidak menampik, sebagai pejabat perempuan, dirinya memiliki cara tersendiri dalam menghadapi dinamika kerja. Jansje menyebut, tantangan personal yang ia rasakan tidak terlalu besar karena memiliki karakter yang kuat dalam menyampaikan pendapat dan mengambil peran.
“Kalau saya pribadi sebagai seorang pejabat perempuan tidak terlalu memiliki tantangan karena saya pribadi cukup tegas karena saya cukup dominan,” katanya.
Sikap tegas tersebut, menurutnya, menjadi salah satu modal penting bagi perempuan dalam menghadapi ruang kerja yang belum sepenuhnya setara. Di tengah kultur yang kadang masih menempatkan perempuan sebagai pihak yang kurang didengar, keberanian untuk berbicara dan menunjukkan kapasitas menjadi hal yang diperlukan.
[PRD | ADV DP3AP2KB PPU]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.
