Dailykaltim.co, Penajam – Angka kesenjangan gender di Penajam Paser Utara (PPU) masih menjadi pekerjaan rumah dalam pelaksanaan pengarusutamaan gender (PUG). DP3AP2KB PPU menilai, pembangunan daerah belum sepenuhnya inklusif selama masih ada jarak akses, peran, dan manfaat pembangunan antara laki-laki dan perempuan.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) PPU, Jansje Grace Makisurat, mengatakan kesenjangan gender di PPU masih berada di angka 0,4. Menurutnya, angka tersebut menunjukkan bahwa masih ada ruang yang perlu dibenahi agar pembangunan benar-benar memberi akses setara bagi perempuan.
“Karena, angka kesenjangan gender di PPU ini masih 0,4 harusnya 0 kesenjangannya, kalau masih ada seperti itu artinya masih ada kesenjangan.
Catatan itu menjadi salah satu dasar bagi DP3AP2KB PPU untuk terus memperkuat agenda pemberdayaan perempuan. Sebab, dalam prinsip pembangunan responsif gender, kesenjangan sekecil apa pun tetap menunjukkan adanya kelompok yang belum sepenuhnya memperoleh akses, manfaat, partisipasi, atau kontrol yang setara.
Jansje menilai, PUG di PPU masih perlu diperkuat secara lebih serius. Bukan hanya dalam bentuk dokumen perencanaan atau program seremonial, tetapi harus terlihat dalam kebijakan, pelaksanaan program, hingga dampak nyata bagi perempuan di masyarakat.
“Jadi memang terkait PUG di PPU masih belum dapat dikatakan inklusif sepenuhnya. Makanya kita mau benar-benar memberdayakan dan menggerakan perempuan,” ujarnya.
Menurut Jansje, pemberdayaan perempuan tidak bisa hanya berhenti pada kegiatan tahunan atau momentum peringatan tertentu. Upaya itu harus masuk ke berbagai sektor pembangunan, mulai dari ekonomi, pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, perlindungan perempuan dan anak, hingga keterlibatan dalam ruang pengambilan keputusan.
Di tingkat masyarakat, perempuan memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan. Banyak perempuan yang bergerak dalam UMKM, komunitas, pendidikan anak, pelayanan sosial, hingga kegiatan berbasis lingkungan. Namun, potensi tersebut perlu didukung agar tidak berjalan sendiri-sendiri tanpa pendampingan yang memadai.
PUG juga menuntut setiap perangkat daerah untuk melihat kembali apakah program yang dijalankan sudah memperhitungkan kebutuhan perempuan. Sebab, hambatan yang dihadapi perempuan sering kali berbeda dengan laki-laki, baik dari sisi akses informasi, waktu, beban domestik, kesempatan mengikuti pelatihan, hingga keberanian tampil dalam forum publik.
Karena itu, Jansje menekankan pentingnya kerja kolaboratif. DP3AP2KB PPU tidak bisa berjalan sendiri untuk menutup kesenjangan gender yang masih ada. Diperlukan dukungan lintas sektor agar program pemberdayaan perempuan dapat menjangkau lebih banyak kelompok dan memberi dampak lebih luas.
“Kita akan terus mencoba menggandeng pihak lain untuk berkolaborasi dengan program kami,” tutupnya.
[PRD | ADV DP3AP2KB PPU]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.
