Dailykaltim.co – Di pesisir Pantai Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, laut bukan hanya ruang ekonomi. Ia adalah ruang spiritual. Setiap bulan Muharram, ratusan perahu nelayan berhias janur, bunga, dan bendera warna-warni berlayar menuju tengah Selat Sunda. Di atas gelombang, sesaji dilarungkan. Doa dipanjatkan. Zikir menggema.
Tradisi itu dikenal sebagai Sedekah Bumi dan Laut atau Ruwat Laut Carita—ritual tahunan yang menjadi penanda relasi mendalam antara manusia, alam, dan Tuhan.
Makna ritual ini dikaji secara komprehensif dalam artikel ilmiah berjudul Makna Tradisi Sedekah Bumi dan Laut pada Ritual Ruat Laut Carita, Pandeglang, Banten karya Hilda Mirza Syani dan Ayu Restiani yang terbit di Jurnal Budaya FIB UB Vol. 6 No. 2 Tahun 2025 . Penelitian tersebut menggunakan pendekatan etnografi deskriptif untuk membaca makna filosofis, sosial, ekologis, dan religius yang terkandung dalam tradisi ini.
Bagi masyarakat nelayan Carita, Ruwat Laut adalah ungkapan rasa syukur atas hasil tangkapan yang melimpah sekaligus doa keselamatan ketika melaut. Kepala kerbau yang dilarungkan melambangkan pengorbanan dan permohonan perlindungan. Tumpeng menjadi simbol kemakmuran. Air bersih, bunga, dan kemenyan menghadirkan makna penyucian serta harapan akan keberkahan.
Namun ritual ini bukan praktik kepercayaan lama yang berdiri sendiri. Ia merupakan hasil akulturasi panjang antara kosmologi lokal pra-Islam dengan ajaran Islam. Prosesi selalu diawali dengan doa, zikir, dan tahlil. Persembahan dimaknai sebagai sedekah simbolik—bentuk syukur kepada Allah SWT, bukan persembahan kepada selain-Nya.
Dalam konteks sejarah, ritual ini juga menjadi respon kultural atas pengalaman kolektif masyarakat pesisir menghadapi bencana, termasuk letusan Krakatau 1883. Laut dipahami sebagai karunia sekaligus kekuatan besar yang harus dihormati.
Ruwat Laut tidak hanya berbicara tentang spiritualitas. Ia adalah peristiwa sosial besar yang melibatkan ratusan hingga ribuan warga dari Desa Carita, Banjarmasin, dan Sukajadi.
Persiapan dilakukan secara gotong royong. Perempuan menyiapkan hidangan simbolik. Laki-laki menyembelih hewan kurban. Pemuda menghias perahu. Tokoh adat dan agama memimpin doa. Ritual ini menjadi ruang pertemuan lintas generasi.
Penelitian tersebut mencatat bahwa tradisi ini memperkuat solidaritas sosial masyarakat nelayan. Ikatan sosial terbentuk dari kesamaan profesi, pengalaman, dan ketergantungan pada laut sebagai sumber kehidupan.
Bahkan tradisi perebutan sisa sesaji setelah pelarungan dimaknai sebagai simbol harapan akan keberuntungan dan keselamatan pada musim tangkap berikutnya.
Di balik simbolisme ritual, tersimpan pesan ekologis yang kuat. Doa yang dipanjatkan tidak hanya memohon keselamatan, tetapi juga keberlanjutan hasil laut dan keseimbangan ekosistem Selat Sunda.
Ruwat Laut menjadi bentuk pendidikan lingkungan yang tidak tertulis. Generasi muda diajarkan bahwa laut harus dirawat, bukan sekadar dieksploitasi. Tradisi ini menanamkan kesadaran bahwa kesejahteraan nelayan bergantung pada kelestarian alam.
Dalam konteks krisis lingkungan global, pesan ini terasa semakin relevan.
Seiring berkembangnya pariwisata di Pantai Carita, Ruwat Laut kini juga menjadi agenda budaya yang menarik ribuan wisatawan. Parade perahu hias, pentas wayang golek, tari jaipong, lomba pantai, hingga pasar UMKM meramaikan rangkaian acara.
Dampaknya signifikan terhadap ekonomi lokal. Tingkat hunian penginapan meningkat, pedagang kecil meraup keuntungan, dan tradisi memperoleh ruang promosi lebih luas.
Namun di sisi lain, muncul ketegangan antara sakralitas dan komodifikasi. Bagi nelayan dan sesepuh adat, ritual ini adalah kewajiban spiritual. Sementara bagi sebagian pihak, ia dipandang sebagai atraksi budaya.
Penelitian tersebut menegaskan bahwa Ruwat Laut kini berada pada titik negosiasi: menjaga nilai sakral sekaligus beradaptasi dengan tuntutan ekonomi dan modernisasi. Beberapa penyesuaian skala dan bentuk dilakukan agar tradisi tetap bertahan tanpa kehilangan makna inti.
Tantangan terbesar ke depan adalah regenerasi. Generasi muda hidup dalam arus globalisasi dan budaya populer. Tanpa edukasi dan pelibatan aktif, tradisi bisa kehilangan relevansi.
Karena itu, peneliti merekomendasikan sinergi antara pemerintah daerah, tokoh adat, akademisi, dan komunitas untuk menjaga keseimbangan antara pelestarian nilai sakral dan pengembangan wisata budaya berkelanjutan.
Ruwat Laut Carita pada akhirnya bukan sekadar perayaan tahunan. Ia adalah cermin hubungan manusia dengan alam dan Tuhannya. Di tengah gelombang modernisasi, masyarakat pesisir Carita menunjukkan bahwa tradisi bukan benda mati. Ia bisa beradaptasi, bernegosiasi, dan tetap hidup—selama makna dasarnya terus dijaga.
[UHD]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.
