Close Menu
  • Beranda
  • Topik
    • Nasional
    • Kaltim
    • Politik
    • Insidental
    • Lipsus
    • Opini
    • Infografis
    • Pariwara
  • Daerah
    • Samarinda
    • Balikpapan
    • Bontang
    • Kukar
    • Kubar
    • Kutim
    • Berau
    • PPU
    • Paser
    • Mahulu
  • Lainnya
    • Internasional
    • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Budaya
    • Rupa
  • Tertaut
    • Pasang Iklan
    • Media Partner
    • Publikasi Opini
    • Saluran
  • Info
    • Redaksi
    • Pedoman Siber
    • Hak Koreksi
  • Video

Dapatkan Info Terbaru!

Tetap up-to-date dengan berita hangat dan cerita menarik seputar Kalimantan, bisnis, dan gaya hidup.

Terbaru

Kenali Retinoblastoma, Kanker Mata yang Kerap Menyerang Balita

06/07/2026 3:03 AM

Obesitas Jadi Pemicu Utama Diabetes, Kasus di Indonesia Terus Meningkat

06/07/2026 3:00 AM

Internet Indonesia Ditargetkan Tembus 100 Mbps dalam Dua Tahun

06/07/2026 2:54 AM
Instagram TikTok Facebook X (Twitter) YouTube LinkedIn
Breaking
  • Kenali Retinoblastoma, Kanker Mata yang Kerap Menyerang Balita
  • Obesitas Jadi Pemicu Utama Diabetes, Kasus di Indonesia Terus Meningkat
  • Internet Indonesia Ditargetkan Tembus 100 Mbps dalam Dua Tahun
  • Qori Muda Kaltim Raih Juara MTQ Pelajar Internasional di Malaysia
  • Aren Genjah Kutim Dilirik Jadi Komoditas Unggulan Baru di Luar Sawit
  • Geopark Sangkulirang-Mangkalihat Jalani Verifikasi Nasional Mulai 6 Juli Kuti
  • Pendaftaran Beasiswa LPDP Tahap II 2026 Dibuka, Fokus Perkuat Talenta Industri Strategis
  • Jangan Abaikan Label Gizi, Kunci Memilih Makanan Lebih Sehat
  • Sertifikasi Kompetensi Gratis untuk Alumni MagangHub 2025 Dibuka hingga 10 Juli
  • Kemkomdigi Beri Tenggat hingga 3 Juli, 25 Platform Digital Terancam Diblokir
  • Triathlon Kutim Pilih Kirim 12 Atlet ke Porprov Kaltim, Bidik Tiga Medali Emas
  • Pabrik Sangattaqua Uji Coba Produksi Botol, Siap Penuhi Permintaan Pasar
  • MTQ XIII Kecamatan Tenggarong Resmi Dibuka, Diikuti 144 Peserta
  • Insinerator Mulai Beroperasi, Samarinda Target Kurangi Timbunan Sampah Harian
  • Harga BBM Nonsubsidi Turun per 1 Juli 2026, Pertamina Dex Anjlok Rp3.700
  • Pendaftaran MagangHub Angkatan II Dibuka Juli, Kuota Capai 150 Ribu
  • BRIN Temukan Dua Genotipe Cabai Tahan Hama Kutudaun
  • 90 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air
  • Bogor Hornbills Cetak Sejarah, Rebut Gelar Juara IBL 2026
  • BMKG Ingatkan El Nino Kuat Berpotensi Ganggu Pangan, Air, dan Kesehatan
Instagram TikTok Facebook X (Twitter) YouTube LinkedIn
Daily Kaltim
  • Beranda
  • Topik
    • Nasional
    • Kaltim
    • Politik
    • Insidental
    • Lipsus
    • Opini
    • Infografis
    • Pariwara
  • Daerah
    • Samarinda
    • Balikpapan
    • Bontang
    • Kukar
    • Kubar
    • Kutim
    • Berau
    • PPU
    • Paser
    • Mahulu
  • Lainnya
    • Internasional
    • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Budaya
    • Rupa
  • Tertaut
    • Pasang Iklan
    • Media Partner
    • Publikasi Opini
    • Saluran
  • Info
    • Redaksi
    • Pedoman Siber
    • Hak Koreksi
  • Video
Daily Kaltim
  • Beranda
  • Topik
  • Daerah
  • Lainnya
  • Tertaut
  • Info
  • Video
Opini

Belajar Toleransi dari Serambi Mekkah: Bagaimana Ulama Aceh Memandang Perbedaan Agama

Redaksi Daily Kaltim29/12/2025 8:55 AM
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Dina Umrasita Abrarah

Oleh Dina Umrasita Abrarah

Aceh sering kali dikenang sebagai daerah yang kukuh dalam identitas Islam. Julukan Serambi Mekkah melekat bukan tanpa alasan : Sejak berabad-abad, wilayah ini menjadi pusat dakwah, pendidikan, dan transmisi intelektual Islam di Nusantara. Tidak sedikit orang yang membayangkan Aceh sebagai wilayah “seragam secara agama”, di mana keberagamaan masyarakatnya bergerak dalam komitmen yang kuat terhadap syariat Islam. Namun, gambaran tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan kenyataan sosial Aceh, khususnya dalam hal hubungan antaragama. Jika kita Menengok lebih dalam, terdapat warisan pemikiran ulama Aceh yang justru membuka ruang toleransi, kearifan, dan penghargaan terhadap agama lain.  Di tengah dunia yang semakin penuh polarisasi, pandangan-pandangan ulama Aceh ini menjadi sumber inspirasi yang sering kali terabaikan. Tulisan ini mencoba menggali bagaimana Sesungguhnya ulama Aceh memandang perbedaan agama, sekaligus mengapa pandangan Mereka penting untuk dibaca kembali dalam konteks keindonesiaan hari ini.

Jejak Historis: Aceh Tidak Pernah Berdiri Sendiri

Untuk memahami sikap ulama Aceh terhadap agama lain, kita perlu melihat sejarah Aceh sebagai pelabuhan internasional. Sejak abad ke-16, Banda Aceh dikenal sebagai pusat perdagangan Dunia, tempat para pedagang dari Gujarat, Cina, Arab, Turki, Eropa, dan berbagai wilayah Asia berkumpul. Kehadiran para pendatang ini membawa tradisi budaya dan agama yang beragam. Di tengah keragaman tersebut, ulama Aceh sejak masa Sultan Iskandar Muda telah memainkan Peran penting sebagai penafsir ajaran Islam sekaligus mediator sosial. Kitab-kitab klasik Aceh, Termasuk karya Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani, memuat pandangan tentang Kemanusiaan universal dan hubungan harmonis antar sesama makhluk Tuhan. Sejarah Aceh juga memperlihatkan contoh keharmonisan seperti keberadaan komunitas Tionghoa Di Peunayong yang berdampingan dengan masyarakat muslim. Simbiosis sosial ini bukan tanpa dasar teologis, melainkan hasil tafsir ulama terhadap ajaran Islam yang mendorong keadilan (‘adl), Kebajikan (ihsan), dan penghormatan terhadap sesama manusia.

Landasan Teologis: Ulama Aceh dan Tafsir Tentang Perbedaan

Dalam studi agama, isu perbedaan iman selalu menjadi salah satu tema yang paling sensitif. Namun, ulama Aceh memiliki pendekatan yang menarik : Mereka memegang teguh ajaran Islam, tetapi tetap mengutamakan prinsip kemaslahatan dan kedamaian. Beberapa ulama Aceh, seperti Tgk. H. Daud Beureueh, Tgk. Hasan Krueng Kalee, Abuya Mudi Mesra, hingga ulama kontemporer seperti Abu Tumin dan Abu Paya Pasi, sering menekankan Bahwa Islam memerintahkan umatnya untuk hidup adil terhadap siapa pun, termasuk mereka yang berbeda agama.

Ayat yang sering dirujuk adalah QS. Al-Mumtahanah: 8: “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangimu karena agama…” Ulama Aceh menafsirkan ayat ini sebagai perintah jelas bahwa perbedaan agama bukan alasan untuk memusuhi bahkan berlaku baik adalah bagian dari implementasi syariat. Dalam kajian usul Fiqh, mereka memandang bahwa menjaga kerukunan sosial merupakan bagian dari maqashid Al-syariah yaitu tujuan utama syariat Islam. Dengan demikian, bagi ulama Aceh toleransi bukan sekadar sikap budaya atau kesopanan sosial, melainkan ibadah yakni pelaksanaan nilai Islam dalam relasi sosial yang nyata.

Perbedaan agama sebagai Sunnatullah Salah satu gagasan penting yang sering disampaikan ulama Aceh adalah bahwa perbedaan agama merupakan bagian dari sunnatullah sebuah ketetapan tuhan dalam mengatur alam Semesta. Mereka merujuk pada QS. Hud: 118 : “Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia Umat yang satu…” Bagi ulama Aceh, ayat ini menegaskan bahwa pluralitas bukan kegagalan dakwah, bukan kelemahan hukum Islam, melainkan realitas yang Allah izinkan. Tugas manusia bukan menyeragamkan keyakinan orang lain, tetapi menjaga keadilan dan hubungan yang baik dalam keberagaman. Di meunasah-meunasah Aceh, ajaran ini sering disampaikan dengan bahasa lokal: “Peuëtah Agamè droe-droe, peumulia sesama makhluk.” (Agama masing-masing adalah urusan pribadi, Tetapi memuliakan sesama adalah kewajiban kita semua.)

Sikap Sosial: Menghormati Tanpa Menyeragamkan

Ulama Aceh membedakan dua hal penting: akidah (keimanan) yang bersifat pasti, dan muamalah (hubungan sosial) yang bersifat fleksibel. Dalam akidah, mereka tetap teguh pada prinsip bahwa Islam adalah jalan keselamatan bagi umat muslim. Namun dalam muamalah, ulama Aceh justru tampil sebagai jembatan harmoni. Tradisi seperti tolong-menolong warga desa, pengamanan perayaan hari besar keagamaan non-Muslim oleh masyarakat muslim, dan hubungan ketetanggaan yang hangat menjadi contoh praktik toleransi yang hidup hingga kini.

Kearifan lokal: Suloh, Peusijuek, dan Ruang Dialog

Aceh memiliki kearifan lokal yang membantu merawat hubungan antarpemeluk agama. Salah Satunya adalah suloh, musyawarah adat untuk menyelesaikan konflik melalui dialog. Tradisi peusijuek, ritual doa dengan taburan beras juga mencerminkan keterbukaan. Meski berakar dari tradisi Islam lokal, peusijuek sering diberikan kepada siapa pun tanpa membedakan Agama.

Tantangan modern: Ketika toleransi mulai tergerus

Meskipun warisan toleransi ini kuat, Aceh tetap menghadapi tantangan. Arus globalisasi membawa Ide-ide keagamaan yang lebih kaku. Media sosial kadang menyebarkan narasi kebencian tanpa konteks. Dalam situasi seperti ini, pandangan ulama Aceh menjadi sangat relevan untuk dibaca ulang.

Mengapa Pandangan Ulama Aceh Relevan untuk Indonesia?

  1. Toleransi tidak berarti kompromi akidah.
  2. Dialog lebih kuat daripada hukuman sosial.
  3. Moderasi adalah warisan, bukan hal baru.

Penutup

Perbedaan agama adalah realitas yang akan selalu ada. Namun ulama Aceh mengajarkan bahwa perbedaan bukan ancaman melainkan ruang untuk menunjukkan akhlak terbaik, menguatkan keadilan, dan memuliakan sesama manusia. Jika dunia ingin belajar cara hidup harmonis tanpa menanggalkan keyakinan masing-masing, maka Aceh memiliki pelajaran berharga: Toleransi adalah bentuk tertinggi kematangan sosial dan kekuatan iman.

*) Tanggung jawab atas opini ini sepenuhnya ada pada penulis sebagaimana tercantum, dan tidak mencerminkan pandangan atau kebijakan redaksi DailyKaltim.co.

Follow on Google News

Related Posts

Opini

Apakah GERD bisa menghentikan fungsi jantung?

23/05/2026 6:30 AM
Opini

Di Balik Kekejaman: Menggali Keadilan dalam Masyarakat Kita yang Sesuai dengan Fiqih Jinayah

21/01/2026 4:59 AM
Opini

Memahami Al-Qur’an Secara Mendalam: Tantangan Zaman Digital dan Keteladanan Metodologi Ulama Klasik yang Tepat

10/01/2026 7:03 AM
Opini

Jalan Rusak Singa Geweh: Ketika Masalah Kecil Menjadi Sorotan Besar

29/12/2025 8:38 AM
Opini

Membaca Dinamika Politik Kukar 2029: Kontestasi Demokrasi dalam Bingkai Kepentingan Publik

29/12/2025 8:23 AM
Opini

Kalimantan Timur: Harmoni Kearifan Lokal dan Arah Baru Pembangunan Nasional

29/12/2025 7:58 AM
Iklan
Demo
Trending

PPU Gelar Diskusi Sawit Berkelanjutan,Tingkatkan Daya Saing dan Kualitas

07/11/2024 3:21 AM

7PaceRunners Gelar Lari di Car Free Day PPU, Kampanye Gaya Hidup Sehat dan Dukung UMKM

15/02/2025 4:17 AM

Disdukcapil PPU Soroti Rendahnya Kesadaran Warga Soal Pelaporan Akta Kematian

29/04/2025 2:11 PM

Anopheles Tak Selalu Jadi Musuh: Fokus Dinkes PPU Kini ke Penularan Aktif di Sotek

11/06/2025 2:07 PM

PPU Borong Tiga Penghargaan Gender Champion Kaltim 2026, Peran Perempuan Jadi Sorotan

30/04/2026 10:01 AM
Terbaru
Gaya Hidup

Kenali Retinoblastoma, Kanker Mata yang Kerap Menyerang Balita

By Redaksi Daily Kaltim06/07/2026 3:03 AM

Dailykaltim.co – Retinoblastoma merupakan jenis kanker mata yang paling sering ditemukan pada bayi dan anak…

Obesitas Jadi Pemicu Utama Diabetes, Kasus di Indonesia Terus Meningkat

06/07/2026 3:00 AM

Internet Indonesia Ditargetkan Tembus 100 Mbps dalam Dua Tahun

06/07/2026 2:54 AM

Qori Muda Kaltim Raih Juara MTQ Pelajar Internasional di Malaysia

06/07/2026 2:43 AM

Aren Genjah Kutim Dilirik Jadi Komoditas Unggulan Baru di Luar Sawit

06/07/2026 2:37 AM
Stay In Touch
  • Facebook
  • Twitter
  • Pinterest
  • Instagram
  • YouTube
  • Vimeo

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

Iklan
Demo
Tentang Kami
Tentang Kami

DailyKaltim.co adalah portal berita online yang berkomitmen untuk menyajikan berita terkini dan berkualitas seputar Kalimantan Timur.

Mari #Merajutinformasikaltim bersama kami!

Email: Redaksi@dailykaltim.co
Kontak: +62 82154313156

Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
Pilihan

Thohiron Tekankan Pentingnya Jaminan Hidup bagi Atlet Pasca Pensiun

04/10/2024 12:35 PM

Kejuaraan Pencak Silat Bupati Cup 2025 Dorong Lahirnya Atlet Berprestasi di Kutim

24/10/2025 4:47 AM

Kaltim dan Gorontalo Jalin Kerja Sama Perkuat Ketahanan Ekonomi dan Pangan

28/10/2025 3:14 AM
TERBARU

Kenali Retinoblastoma, Kanker Mata yang Kerap Menyerang Balita

06/07/2026 3:03 AM

Obesitas Jadi Pemicu Utama Diabetes, Kasus di Indonesia Terus Meningkat

06/07/2026 3:00 AM

Internet Indonesia Ditargetkan Tembus 100 Mbps dalam Dua Tahun

06/07/2026 2:54 AM
© 2023-2024 Copyright by Daily Kaltim. All rights reserved.
  • Redaksi
  • Hak Koreksi
  • Pedoman Siber
  • Media Partner

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version