Dailykaltim.co, Penajam – BPBD Penajam Paser Utara (PPU) menyebut karakter material yang terbakar menjadi salah satu faktor utama yang membuat pemadaman karhutla membutuhkan waktu lebih lama. Selain luasan area, jenis material seperti kayu bertumpuk dan gambut dapat membuat api sulit benar-benar padam.
Sejumlah kejadian dalam rekap BPBD menunjukkan beberapa lokasi memiliki luasan cukup besar atau terjadi berulang, seperti Sepan seluas 10,66 hektare, Riko 5,07 hektare, Babulu Laut 5 hektare, serta beberapa kejadian di Gunung Steleng/Seteleng. Data tersebut menggambarkan bahwa penanganan tidak hanya berkaitan dengan jumlah titik, tetapi juga kondisi material di lapangan.Â
Kepala BPBD PPU, Nurlaila, mengatakan karhutla di lahan dengan material ringan biasanya lebih cepat ditangani. Namun, jika terdapat tumpukan kayu besar atau pepohonan yang ditebang, proses pemadaman menjadi jauh lebih sulit.
“Tapi kalau material yang terbakar itu, meskipun dia jenis material, tapi kalau di atasnya pepohonan yang sudah ditebang atau yang besar-besar ditumpuk oleh warga untuk dibakar, nah itu agak sulit,” ujar Nurlaila.
Menurutnya, tumpukan kayu dapat menyimpan bara di bagian bawah. Air yang disemprotkan petugas belum tentu dapat menjangkau seluruh lapisan material, sehingga api berpotensi kembali muncul keesokan harinya.
“Karena kayu-kayu yang terbakar ini itu pasti area bawahnya tidak bisa terjangkau oleh air, sehingga masih menyimpan panas dan bara api yang sewaktu-waktu dengan kondisi panas besoknya, itu kemudian angin, itu bisa jadi api kembali,” katanya.
Kondisi tersebut membuat proses penanganan tidak cukup hanya memadamkan api yang terlihat di permukaan. Petugas harus membuka material terbakar, memeriksa bara, dan memastikan seluruh titik panas benar-benar mati.
“Nah, itulah yang susahnya kalau kondisi material yang terbakar karakteristik yang seperti itu. Membutuhkan tenaga ekstra karena kita harus membuka batang-batang itu, diyakinkan semua baranya itu mati, seperti itu,” jelasnya.
Tantangan serupa juga terjadi pada lahan gambut. Menurut Nurlaila, api di area gambut dapat menyimpan panas di bawah permukaan dan menjalar tanpa selalu terlihat dari atas.
Gunung Steleng menjadi salah satu area yang disebut memiliki karakter gambut. Dalam rekap BPBD, wilayah Gunung Steleng/Seteleng beberapa kali tercatat mengalami karhutla pada Agustus 2026, termasuk kejadian seluas 4,13 hektare pada 9 Agustus dan 1,12 hektare pada 14-15 Agustus.Â
“Sama seperti areal gambut di Gunung Steleng, berapa itu yang di jalur masuk jalan rijit beton. Nah, itu gambut. Itu juga susah karena kita kan ketahui bersama, gambut itu semakin kering, kalau tidak salah semakin menyimpan hawa panas di area bawah dan menjalar di area bawah,” ujar Nurlaila.
Ia menyebut, lahan gambut membutuhkan perlakuan berbeda dibandingkan kebakaran di lahan mineral. Petugas harus memastikan air masuk cukup dalam dan tidak hanya membasahi permukaan.
“Sehingga membutuhkan treatment yang berbeda dan penanganan otomatis yang lebih lama dari jika yang terbakar itu jenis mineral dan hanya ditumbuhi oleh semak belukar dan pepohonan biasa,” tandasnya.
[PRD | ADV DISKOMINFO PPU]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.
