Dailykaltim.co, Penajam – Memasuki musim kemarau, ketersediaan sumber air menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Penajam Paser Utara (PPU) dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Kondisi lahan yang lebih kering membuat pemadaman tidak bisa hanya bergantung pada kecepatan personel, tetapi juga pada jarak sumber air dan dukungan armada di lapangan.
Kepala BPBD PPU, Nurlaila, mengatakan setiap kejadian karhutla memiliki kebutuhan penanganan berbeda. Namun, pada musim kemarau, keberadaan sumber air menjadi semakin penting karena api berpotensi lebih cepat menjalar, terutama jika material yang terbakar berupa gambut atau tumpukan kayu.
“Iya, kalau sementara ini disesuaikan dengan kejadian yang ada, kecuali yang di Rico tadi malam ada embung tapi agak jauh, tetap membutuhkan mobilitas mobil tangki,” ujar Nurlaila.
Menurutnya, keberadaan embung di sekitar lokasi memang dapat membantu proses pemadaman. Namun, apabila jaraknya masih cukup jauh dari titik api, petugas tetap membutuhkan mobil tangki untuk membawa air ke lokasi kebakaran.
Dalam kondisi kemarau, mobilitas mobil tangki menjadi bagian penting dari operasi pemadaman. Air harus terus tersedia agar proses penyiraman dan pendinginan tidak terputus, terutama pada area yang masih menyimpan bara.
Nurlaila menjelaskan, tantangan pada musim kemarau tidak hanya soal keringnya permukaan lahan. Pada beberapa kejadian, material yang terbakar membuat pemadaman membutuhkan waktu lebih lama karena api tidak langsung padam meski sudah disiram.
Ia mencontohkan penanganan di Sepan yang berlangsung hingga beberapa hari. Selain faktor sumber air, banyaknya tumpukan kayu dan kondisi gambut membuat proses pemadaman lebih berat.
“Nah, itu agak berbeda sedikit dengan di Sepan. Kalau di Sepan itu sampai 5 hari karena banyak sekali tumpukan-tumpukan kayu perusahaan dan gambutnya. Gambutnya itu lebih parah dari gambut yang di Sepan itu,” katanya.
Tumpukan kayu pada musim kemarau dapat menjadi sumber bara yang sulit dipadamkan. Bagian luar material bisa terlihat padam, tetapi panas di bagian dalam masih bertahan dan berpotensi kembali menyala ketika terkena angin atau suhu panas.
Kondisi tersebut membuat petugas harus melakukan penyiraman berulang. Tidak cukup hanya memadamkan api di permukaan, tetapi juga memastikan sisa panas di bagian bawah material benar-benar hilang.
Selain tumpukan kayu, lahan gambut menjadi tantangan tersendiri. Pada musim kemarau, gambut yang mengering dapat menyimpan panas di bagian dalam. Api tidak selalu tampak besar di permukaan, tetapi tetap menjalar di bawah lapisan tanah.
Karena itu, penanganan gambut membutuhkan peralatan khusus. Air harus bisa masuk ke lapisan yang lebih dalam agar titik panas tidak kembali memicu api.
“Gambutnya itu materialnya lebih lembut, lebih lembek. Jadi nosel untuk memadamkan gambut itu yang bisa masuk ke dalam gambut tuh yang panjang mata semprotnya,” jelas Nurlaila.
Menurutnya, penggunaan nosel panjang dibutuhkan agar pemadaman tidak hanya mengenai permukaan gambut. Alat tersebut membantu petugas memasukkan air ke bagian dalam material yang terbakar.
BPBD PPU menilai, pengalaman penanganan di sejumlah lokasi menjadi catatan penting menghadapi musim kemarau. Pemetaan embung, sumber air, akses mobil tangki, dan kebutuhan peralatan khusus perlu terus diperhatikan agar penanganan karhutla dapat dilakukan lebih efektif.
[PRD | ADV DISKOMINFO PPU]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.
