Dailykaltim.co, Penajam – BPBD Penajam Paser Utara (PPU) mengandalkan dukungan mobil tangki ketika menangani karhutla di lokasi yang jauh dari sumber air. Armada tersebut menjadi penopang penting agar suplai air tetap tersedia selama proses pemadaman berlangsung.
Kepala BPBD PPU, Nurlaila, mengatakan kebutuhan mobil tangki muncul ketika petugas tidak menemukan sumber air yang memadai di sekitar titik kebakaran. Namun, penggunaan mobil tangki juga membuat proses penanganan membutuhkan waktu lebih panjang karena armada harus bolak-balik mengambil air.
“Kalau tidak ada sumber air, berarti kita membutuhkan support daya dukung mobil-mobil tangki, yang mana itu pasti membutuhkan durasi waktu pulang pergi. Itu yang pertama, durasi waktu pulang pergi, durasi waktu pengisian air, dan proses itu cukup lama,” ujar Nurlaila.
Menurutnya, waktu tempuh armada menjadi persoalan tersendiri dalam penanganan karhutla. Saat mobil tangki bergerak mengambil air, api di lokasi tetap berpotensi meluas, terutama jika material yang terbakar berupa gambut atau tumpukan kayu.
“Kita bisa bayangkan dengan durasi waktu yang dibutuhkan mobil tangki untuk pergi dan mengambil air serta mengisinya, dengan jika dibandingkan dengan kondisi di lapangan ini yang memang apinya sudah menyala,” katanya.
Nurlaila menjelaskan, kebutuhan air dalam pemadaman karhutla tidak sedikit. Semakin luas area terbakar dan semakin sulit karakter materialnya, semakin besar pula dukungan armada dan tenaga yang diperlukan.
“Sehingga support mobil tangki benar-benar dibutuhkan, banyak mobil tangki dibutuhkan banyak, dan tentunya air yang cukup banyak dan membutuhkan durasi waktu yang lama. Otomatis penanganannya juga lama, energi, biaya, tenaganya juga banyak,” jelasnya.
Salah satu contoh penanganan yang membutuhkan dukungan armada terjadi di Kelurahan Riko. Dalam rekap BPBD PPU, karhutla di RT 06 Kelurahan Riko pada 25 Agustus 2026 tercatat seluas 5,07 hektare.
Pada kejadian tersebut, BPBD PPU terbantu dengan keberadaan mobil tangki milik Bandara VVIP. Dua armada berkapasitas besar dikerahkan untuk mendukung suplai air di lapangan.
“Contoh kasusnya yang di Rico. Makanya ada dua mobil tangki Bandara VVIP yang 9.000 liter itu gerak semua,” ujar Nurlaila.
Selain dukungan mobil tangki, keberadaan embung yang tidak terlalu jauh dari lokasi juga membantu proses pemadaman. Petugas tidak perlu mencari sumber air terlalu jauh dari titik kebakaran.
“Syukurnya meskipun tidak ada embung sumber air di area sekitar lokasi, untungnya tidak jauh ada embung dan juga ada embungnya Bandara VVIP. Jadi bisa mobile di situ, tidak harus keluar mencari sumber air,” katanya.
BPBD PPU menilai pengalaman di Riko menjadi catatan penting dalam penanganan karhutla. Keberadaan sumber air dan armada tangki di sekitar lokasi dapat mempercepat proses pemadaman serta mengurangi risiko api meluas.
[PRD | ADV DISKOMINFO PPU]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.
