Dailykaltim.co – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan bata tahan api berbasis bahan lokal dan limbah industri aluminium untuk kebutuhan furnace atau tungku pemanas laboratorium. Material refraktori tersebut dirancang mampu bertahan pada suhu tinggi hingga 1.400 derajat Celsius.
Pengembangan itu menjadi bagian dari upaya BRIN memperkuat komponen lokal pada teknologi furnace yang sebelumnya telah dikembangkan untuk berbagai kebutuhan riset laboratorium.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Sistem Nanoteknologi BRIN, Agus Sukarto Wismogroho, mengatakan tim peneliti mulai memfokuskan pengembangan pada material bata tahan api karena komponen tersebut menjadi salah satu bagian paling mahal dalam sistem furnace.
“Salah satu komponen paling mahal dari furnace adalah dinding refraktori atau bata tahan apinya. Karena itu, kami mulai fokus mengembangkan material bata api sendiri menggunakan bahan baku lokal yang sangat mudah didapatkan di Indonesia,” ujar Agus, beberapa waktu lalu.
Material bata tahan api itu dibuat dari campuran alumina dan silika. BRIN memanfaatkan kaolin sebagai sumber silika alami, sementara kandungan alumina diperoleh dari limbah aluminium dross, yaitu limbah hasil pengecoran aluminium yang selama ini masuk kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
“Alumina kami peroleh dari limbah aluminium dross, yakni limbah B3 hasil pengecoran aluminium yang biasanya berupa material abu-abu akibat proses oksidasi. Limbah ini kemudian dicampurkan dengan kaolin yang kaya kandungan silika,” katanya.
Menurut Agus, pemanfaatan limbah aluminium tidak hanya membantu mengurangi residu industri, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan bahan baku lokal sebagai alternatif pengganti produk impor untuk kebutuhan furnace laboratorium.
Dalam proses pengembangannya, tim peneliti merancang struktur bata dengan rongga atau pori agar kemampuan isolasi panas menjadi lebih optimal. Struktur berongga itu juga membuat material memiliki bobot lebih ringan dibanding bata refraktori konvensional.
“Material ini kami buat berongga sehingga lebih ringan dan mampu menahan panas di dalam furnace agar tidak mudah keluar ke lingkungan sekitar,” ujarnya.
Dengan ketebalan sekitar 5 hingga 8 sentimeter, material tersebut diklaim mampu menjaga suhu di dalam furnace mencapai 1.200 derajat Celsius, sementara suhu pada bagian luar dinding tetap berada di bawah 50 derajat Celsius.
“Jadi material ini sangat efisien dalam menahan panas,” kata Agus.
BRIN menyebut bata tahan api tersebut telah melewati berbagai tahapan pengujian, mulai dari pembentukan struktur kristal mullite menggunakan metode x-ray diffraction (XRD), pengujian densitas, uji tarik dan tekan, hingga pengujian isolasi termal.
“Kemudian untuk mengetahui tingkat keringanan material, kami melakukan pengujian densitas, uji ketahanan produk menggunakan uji tarik dan uji tekan, dan yang terpenting uji isolasi termal untuk menguji ketahanan material dalam manahan pelepasan panas,” jelas Agus.
Selain menekankan kualitas material, BRIN juga menyoroti persaingan produk lokal dengan bata tahan api impor yang selama ini mendominasi pasar industri, terutama produk asal China.
“Produk ini harus mampu bersaing dengan produk impor. Kalau kualitasnya tidak lebih baik atau harganya tidak lebih murah, tentu pasar tidak akan menerima produk ini,” ujarnya.
Agus menilai riset tersebut memiliki peluang untuk masuk tahap hilirisasi industri melalui skema lisensi maupun pembentukan perusahaan rintisan berbasis teknologi atau spin-off company. Langkah itu dinilai penting untuk mendukung substitusi impor di sektor teknologi laboratorium.
Sebelumnya, tim BRIN juga mengembangkan teknologi furnace yang digunakan dalam berbagai instrumen penelitian, mulai dari baterai, semikonduktor, graphene, DNA PCR, hingga teknologi solar cell. Teknologi furnace tersebut telah mengantongi nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 40,77 persen dan diproyeksikan meningkat seiring pengembangan bata tahan api berbasis material lokal.
[UHD]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.
