Dailykaltim.co, Penajam – Angka stunting di Penajam Paser Utara (PPU) disebut masih berada dalam kondisi stabil. DP3AP2KB PPU menilai, data yang dimiliki pemerintah daerah menunjukkan prevalensi stunting masih di angka 11 persen, atau berada di bawah angka nasional.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) PPU, Jansje Grace Makisurat, mengatakan perbedaan data terkait stunting perlu dibaca secara hati-hati. Menurutnya, data daerah dan hasil survei memiliki pendekatan yang berbeda.
“Kalau data dari kita kan masih di angka sebelas. Cuma yang kemarin heboh itu kan survei,” ujar Jansje.
Ia menjelaskan, hasil survei tidak selalu menggambarkan kondisi secara menyeluruh karena menggunakan metode sampel. Karena itu, angka yang muncul dapat dipengaruhi oleh lokasi pengambilan data.
“Kami enggak akan marah survei itu, karena dia hanya mengandalkan sampel. Kalau misalnya dia pergi ke pesisir yang memang tempatnya stunting, angkanya tinggi. Kalau dia datang ke daerah kota yang enggak ada, ya tergantung titiknya dia,” katanya.
Menurut Jansje, perbedaan angka semacam itu tidak perlu langsung dilihat sebagai pertentangan. Data survei tetap bisa menjadi bahan evaluasi, tetapi harus dipahami konteks pengambilannya. Jika sampel diambil di wilayah dengan kasus stunting tinggi, maka hasilnya bisa menunjukkan angka yang lebih besar.
Sebaliknya, jika pengambilan sampel dilakukan di wilayah dengan kasus rendah, gambaran yang muncul juga bisa berbeda. Karena itu, ia menilai pembacaan data stunting perlu melihat metode, cakupan, serta basis data yang digunakan.
Bagi DP3AP2KB PPU, data akumulatif daerah masih menunjukkan kondisi yang cukup terkendali. Jansje menyebut, angka stunting PPU masih berada di bawah angka nasional.
“Dalam artian kalau untuk PPU secara akumulatif masih stabil. Iya, di bawah nasional kita. Nasional kan empat belas, kita sebelas. Dan sebelas itu ya dengan angka kunjungan ke puskesmas itu di atas tujuh puluh persen,” jelasnya.
Kunjungan ke puskesmas menjadi salah satu indikator yang turut disorot. Menurut Jansje, tingginya angka kunjungan menunjukkan bahwa masyarakat cukup aktif mengakses layanan kesehatan, termasuk pemantauan tumbuh kembang anak.
Ia menilai, cakupan kunjungan yang tinggi penting dalam membaca data stunting. Sebab, semakin banyak anak yang datang ke fasilitas kesehatan, semakin besar pula data yang dapat dicatat dan dipantau secara langsung oleh petugas.
Jansje kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan daerah lain yang dinilai memiliki angka stunting baik, tetapi cakupan kunjungan ke puskesmas lebih rendah.
“Samarinda dibilang bagus, kunjungan ke puskesmas itu cuma empat puluh persen. Kita di atas tujuh puluh persen. Bagus kita,” ujarnya.
Menurutnya, angka kunjungan ke puskesmas di PPU yang berada di atas 70 persen menjadi catatan positif. Artinya, data yang dimiliki daerah bersumber dari cakupan layanan yang cukup luas, bukan hanya dari sebagian kecil kelompok masyarakat.
[PRD | ADV DP3AP2KB PPU]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.
