Dailykaltim.co, Penajam –Â Dinas Pertanian (Distan) Penajam Paser Utara (PPU) menyebut BBM subsidi pertanian digunakan untuk mendukung alat dan mesin pertanian atau alsintan, baik pada tahap prapanen maupun pascapanen. Karena kondisi pertanian berbeda di setiap wilayah, penyaluran BBM tidak bisa dipukul rata.
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana (Sarpras) Distan PPU, Mahfud, mengatakan BBM pertanian memang diperuntukkan bagi operasional alsintan. Pada tahap prapanen, alat yang digunakan antara lain traktor roda dua, traktor roda empat, dan rotavator.
“Itu memang untuk alsintan. Ada prapanen dan pascapanen. Prapanen seperti traktor roda dua, roda empat, dan rotavator. Traktor roda empat itu seperti John Deere. Rotavator yang sekarang seperti combine, tetapi dia mengolah dengan bagian yang berputar,” ujar Mahfud.
Dalam klasifikasi umum Kementerian Pertanian, alsintan prapanen mencakup alat seperti pompa air, traktor roda dua, traktor roda empat, dan rice transplanter. Sementara alsintan pascapanen pangan mencakup peralatan seperti vertical dryer dan rice milling unit.Â
Mahfud menjelaskan, pada tahap pascapanen, BBM digunakan untuk alat seperti combine, rice milling unit atau RMU, dan dryer.
“Pascapanen seperti combine, RMU, dan dryer,” katanya.
Alsintan pascapanen yang umum digunakan antara lain pengering gabah atau dryer dan mesin penggiling padi atau rice milling unit. Kedua alat itu penting dalam penanganan hasil panen agar kualitas gabah dan beras tetap terjaga.Â
Mahfud mengatakan, kebutuhan BBM harus menyesuaikan kondisi wilayah. Saat sebagian daerah belum memiliki air untuk mulai tanam, wilayah lain masih bisa berada pada fase panen.
“Sekarang belum ada air. Tetapi daerah Waru mungkin masih panen hari ini. Kami membutuhkan informasi dari penyuluh mengenai kondisi di wilayah masing-masing,” jelasnya.
Menurutnya, penyuluh memiliki peran penting dalam memberi informasi lapangan. Data dari penyuluh membantu Distan PPU memahami apakah suatu wilayah sedang memasuki masa olah lahan, tanam, panen, atau justru belum bisa memulai karena terkendala air.
“Tidak bisa dipukul rata karena kondisinya tidak sama. Kadang Babulu sudah tanam, sementara wilayah lain masih panen. Ada yang protes, kenapa masih ada penyaluran untuk alat tanam padahal sudah tidak ada kegiatan itu,” tandasnya.Â
[PRD | ADV DISKOMINFO PPU]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.
