Dailykaltim.co, Penajam – Jumlah bank sampah di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) diperkirakan telah melampaui 100 unit. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) PPU menyebut pembentukan bank sampah terus berkembang di sejumlah desa dan kelurahan, meskipun kegiatan operasionalnya masih banyak mengandalkan swadaya masyarakat.
Kepala DLH PPU, Muhammad Sukadi Kuncoro, mengatakan perkembangan bank sampah menunjukkan semakin banyak kelompok masyarakat yang mulai memanfaatkan sampah sebagai kegiatan produktif. Pembentukannya tidak hanya terpusat di kawasan perkotaan, tetapi juga menjangkau sejumlah wilayah permukiman.
“Masih terus (berkembang). Ada beberapa yang sudah terbentuk,” ujar Kuncoro.
Menurutnya, sejumlah wilayah sudah memiliki bank sampah yang dikelola masyarakat. Keberadaan kelompok tersebut turut membuka peluang bagi warga untuk memperoleh manfaat ekonomi dari material yang sebelumnya hanya dibuang.
“Lawe-Lawe sudah ada, Sesulu ada, kemudian Sepaku juga ada. Ada penambahan. Karena memang ada uangnya. Mereka mendapatkan uang,” katanya.
Kuncoro menjelaskan, potensi ekonomi menjadi salah satu faktor yang mendorong masyarakat membentuk bank sampah. Material tertentu, seperti plastik, kertas, dan logam, masih memiliki nilai jual apabila dipilah serta dikumpulkan dalam kondisi yang sesuai kebutuhan pembeli.
Aktivitas tersebut memberikan peluang pendapatan tambahan bagi anggota sekaligus membantu mengurangi jumlah sampah yang harus diangkut menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Kuncoro memperkirakan jumlah bank sampah di PPU saat ini telah mencapai lebih dari 100 unit. Namun, pengelolaannya masih banyak dilakukan melalui inisiatif dan kemampuan masing-masing kelompok.
“Kalau total bank sampah kita, sekitar 100 lebih. Pendanaannya dari mereka sendiri, swadaya masyarakat,” jelasnya.
Meski jumlah tersebut cukup besar, Kuncoro belum merinci berapa bank sampah yang aktif melakukan transaksi maupun jumlah anggota yang terlibat di setiap kelompok.
Data tersebut penting untuk mengetahui perkembangan bank sampah secara lebih terukur. Sebab, jumlah unit yang sudah dibentuk belum tentu menggambarkan keseluruhan kegiatan pengumpulan dan penjualan sampah yang masih berjalan.
Selain ketersediaan anggota, keberlanjutan bank sampah juga bergantung pada pembeli material, harga jual, dan kemampuan pengelola melakukan penimbangan serta pencatatan transaksi.
Kuncoro mengakui keterbatasan anggaran daerah menjadi salah satu tantangan dalam memberikan dukungan terhadap kegiatan bank sampah. Karena itu, swadaya masyarakat masih menjadi unsur penting agar kegiatan tetap berlangsung.
“Kalau soal uang, sekarang kan tahu sendiri PPU enggak ada uangnya. Nanti ada reward and punishment (penghargaan dan evaluasi terhadap pengelolaan bank sampah),” tutupnya.
[PRD | ADV DISKOMINFO PPU]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.
