Dailykaltim.co, Penajam – Diskominfo PPU sempat mengusulkan pembangunan tower Base Transceiver Station (BTS) untuk memperkuat jaringan di wilayah blank spot. Namun, dalam pembahasan bersama Komdigi dan BAKTI, usulan BTS disebut belum dapat ditindaklanjuti dalam waktu dekat karena kendala regulasi dan efisiensi anggaran.
Kepala Bidang Sumberdaya TIK dan Statistik Diskominfo PPU, Fitriani, mengatakan opsi awal yang diajukan pemerintah daerah adalah tower BTS. Namun, jalur usulan yang dibahas belum memungkinkan untuk direalisasikan dalam dua tahun ke depan.
“Awalnya kami mengusulkan tower. Tetapi dari Komdigi dan BAKTI, untuk dua tahun ke depan, dari 2026 sampai 2028, usulan BTS belum bisa. Kendalanya regulasi dan efisiensi anggaran,” ujar Fitriani.
BAKTI Komdigi menjelaskan, BTS dibangun di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T, serta lokasi prioritas yang belum terjangkau layanan telekomunikasi atau blank spot. Usulan BTS juga membutuhkan kelengkapan data teknis, lokasi, dan dokumen permohonan.
Fitriani menjelaskan, pembangunan BTS tidak hanya menyangkut pemerintah. Dalam praktiknya, penyedia layanan telekomunikasi atau provider juga terlibat dalam pengoperasian jaringan.
“BTS itu dari pemerintah, kemudian melibatkan provider. Satu tower BTS tidak hanya satu provider. Waktu ke lapangan ada satu tower dengan empat provider, ada yang tiga. Tergantung kondisi di situ dan kondisi penduduk,” katanya.
Menurut Fitriani, karakter wilayah sangat menentukan pilihan teknologi. Tower BTS akan lebih efektif jika masyarakat terkumpul dalam satu hamparan. Namun, kondisi Mentawir dinilai berbeda karena jarak antarrukun tetangga atau RT cukup berjauhan.
“Kalau masyarakat terkumpul dalam satu hamparan atau wilayah, bagus memakai tower. Tetapi Mentawir jarak antar-RT jauh. RT satu di sini, RT empat di ujung. Dengan kondisi seperti itu, menurut kami lebih cocok Starlink,” jelasnya.
Komdigi juga menyebut penutupan wilayah blank spot tidak harus bergantung pada satu teknologi. Pemerintah dapat memadukan fiber optik, BTS, satelit orbit rendah atau Low Earth Orbit (LEO), serta teknologi lain sesuai kondisi lapangan.
Fitriani menilai, Starlink menjadi opsi yang lebih fleksibel untuk wilayah seperti Mentawir. Dengan sebaran permukiman yang berjauhan, perangkat satelit dapat ditempatkan pada titik pelayanan publik atau titik komunitas yang benar-benar membutuhkan.
[PRD | ADV DISKOMINFO PPU]
*Dapatkan berita pilihan terbaru setiap hari dari Dailykaltim.co. Informasi terbaru juga dapat dilihat dan diikuti di seluruh media sosial Dailykaltim.co termasuk Instagram, Facebook, X (twitter), Tiktok dan Youtube.
